Officially 24 : A Bunch Of Thank You And Sorry

nulisdanmimpi.wordpress.com

Hari ini usia saya tepat 24 tahun. Ah, sudahlah. Tak ada gunanya menyembunyikan usia. Toh dia hanya sebuah angka yang tak akan berpengaruh apa-apa pada tingkat kedewasaan kita. 24. Dulu, waktu SMA, mendengar sepupu saya telah berusia 24, saya bergidik. Tua amat. Begitu ucap saya dalam hati. Dan sekarang? Saya 24 dan saya merasa masih muda sekaligus merasa tua. Sekali lagi, bukankah usia hanya deretan angka?

Apa yang berarti dari usia 24 selain bertambahnya kerutan di wajah? (Err...belum ada kerutan ding). Sederet keinginan absurd semacam ingin menjadi lebih dewasa, lebih tenang dan lebih terkontrol? Saya bilang absurd karena kita tidak perlu menunggu angka 24 untuk menjadi semua itu. Kita bahkan tidak perlu menunggu detik kesekian untuk berubah. Kita dapat melakukannya detik ini juga. Sesederhana itu, begitulah hidup.
Seperti hal sederhana untuk setiap terima kasih dan maaf...

Terima kasih...

Terima kasih pertama saya tentu saja untuk Dia. Dia yang menjadi sutradara hebat dalam hidup saya. Dia yang Maha Cinta, Maha Segala-galanya. Apa yang harus kita takutkan jika kita memiliki-Nya?


Mengucapkan terima kasih untuk semua orang yang rela membuang-buang waktu mereka untuk saya pun sepertinya terasa klise. Seakan ucapan terima kasih tidak akan pernah cukup untuk mengganti setiap milidetik kebersamaan itu. Tapi...terima kasih. Untuk telah membuat saya menjadi seperti sekarang ini. Saya tidak bisa bilang saya tidak bahagia dengan semua faktor eksternal yang membentuk pribadi saya. I wanna say it one more and more and more and more. Thank you. Thank you is the simplest words but trully deeply has a lot of meaning for me. I'm not the one who can say thank you so easly. Then when I said 'thank you' that must be came from my deepest heart. Thank you :)

Dan sebuah terima kasih lagi untuk setiap kesalahan dan ketololan yang telah saya perbuat sepanjang hidup saya. I've learnt a lot from them. Membuat saya lebih berhati-hati menentukan sikap dan memang...membuat saya lebih lamban dalam bertindak. Kau tau, semakin tua seseorang dia akan menjadi semakin pemikir. Membuat saya terkadang rindu dengan usia belasan saya ketika saya tidak perlu berpikir serumit seperti sekarang ini. And did some crazy things when you were young wasn't a crime! Paling tidak saya punya banyak cerita yang tidak keren untuk saya sampaikan. Bahwa hidup saya tidak melulu berhubungan dengan sesuatu yang keren. Haha...

Dan...umm...yah, masih ada stok terima kasih saya untuk sebuah cerita yang telah lama lewat. Although it's too sensitive for me, but I have to say thank you. I wanna say thank you for the story. A story about fall and fail. We don't always receive what we want but Allah always give us what we need. Want and need. They are two very different words and before that I always though they're same.

Maaf...

Maaf untuk orang-orang yang sudah saya buat kesal. Jujur saja, saya memang menyebalkan dan tidak pandang bulu. Saya bisa menjadi begitu menyebalkan kepada siapa saja jika memang saya ingin. Dan keras kepala...astaga, ada berapa banyak nasihat berharga yang saya lewatkan dari orang lain hanya karena masalah keras kepala dan gengsi ini? Semoga kalian semua mau memaafkan saya.

Ada banyak maaf yang ingin saya sampaikan. Mungkin untuk nasabah yang kesal dengan saya, untuk pengendara sepeda motor yang tanpa sengaja saya marah-marahin dalam hati karena nyelip dari sebelah kiri saya, untuk nasabah yang lainnya lagi dan nasabah yang lain lagi (maklum, tiap hari yang dihadapi nasabah melulu).

Terakhir, saya minta maap karena nulisnya campur-campur antara bahasa Inggris yang hancur dan bahasa Indonesia yang tidak berkeperi-EYD-an. Karena ada beberapa hal yang menurut saya akan terdengar lebay dan dangdut abis kalau saya menuliskannya dalam bahasa Indonesia sehingga saya tetap memaksakan diri menuliskannya memakai bahasa Inggris dengan modal pas-pasan.

Welcome my 24th age. Be nice.

-Devi Liedany-

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)