Bali, Feels Like Home - Wonderful Indonesia


“Don't talk about heaven if you've never been to Bali.”
― Toba Beta, Master of Stupidity

Bali itu pulau cinta. Lihat saja Liz Gilbert harus jauh-jauh ke Bali untuk menemukan cintanya : bertemu dengan Felipe si pria melankolis-dewasa-kharismatik itu.

Apakah karena itu saya juga pergi kesana pekan lalu? Ah, Tidak juga :D

Sebagai orang yang tinggal di ujung timur sulawesi, bisa bepergian keluar Sulawesi adalah sebuah 'kemewahan' karena mahalnya harga tiket pesawat dan waktu cuti yang terbatas. Karena itu saya benar-benar memanfaatkan waktu liburan yang hanya tiga hari untuk menikmati Bali.

Bali termasuk destinasi wisata yang komplit. Mulai dari wisata pantai, pegunungan, danau sampai wisata seni ada di pulau mungil ini. Saya merasa liburan selama tiga hari ini tidak akan cukup untuk menjelajahi seluruh keindahannya. Sebulan mungkin cukup jika saja setelah itu saya tidak di-PHK oleh Perusahaan.


Saat ke Bali jangan pernah sekalipun melewatkan panorama matahari terbenam di Kuta. Jangan! Serius! Menyaksikan matahari terbenam adalah hal wajib yang harus dilakukan saat berada di pantai Kuta. Sambil duduk-duduk di atas pasir putih yang lembut kita bisa menyaksikan bola bulat besar berwarna merah yang bergerak turun perlahan menuju horison. Kejadian yang hanya berlangsung beberapa menit itu membuat saya seperti nyaris melupakan segala urusan kantor dan urusan ini-kapan-saya-bisa-ke-Bali-berdua-dengan-suami. Matahari terbenam di Kuta memang indah apalagi jika diiringi lagu Kuta Bali-nya Andre Hehanusa.

Bersemiiii.....dan entah kapan kembaliiiii....suatu saat di Kuta Baliii – kemudian dilempar ke tengah laut.

Selama di Bali saya lebih banyak mengunjungi pantai-pantai keren yang tersebar disana (padahal rumah sendiri dekat dengan pantai). Memang waktu yang paling pas untuk menikmati keindahan pantai itu saat siang hari, ketika matahari bersinar cerah dan membuat kulit saya menjadi perih alih-alih eksotis. Karena terlalu percaya diri, jam 12 siang saya pergi mengunjungi Labuan Sait dan Blue Point tanpa memakai tabir surya dan membuat kulit saya perih (ya iyalah!)

Tapi pengorbanan kulit-perih saya itu cukup pantas diganjar dengan pemandangan pantai indah yang terletak di kaki tebing batu tinggi, warna air biru berkilauan dan pasir putih yang lembut. Ombak bergulung cukup tinggi di tengah laut dan beberapa wisatawan berselancar air sementara yang lain hanya tiduran di atas pasir, berjemur.

Khusus untuk pantai Blue Point, saya menyarankan Anda yang belum menikah agar melangsungkan resepsi pernikahan disini! :D

Saya tau ini berlebihan. Tapi lihatlah pantainya yang tersembunyi-misterius itu dan lihatlah sebuah aula yang dindingnya terbuat dari kaca dan dibangun di atas tebing tempat orang-orang melangsungkan resepsi pernikahan. Terlalu keren untuk dilukiskan dengan kata-kata! Seharusnya Liz Gilbert menikah disini dan bukannya pergi berlayar dengan Felipe ke Nusa Lembongan (mereka mungkin pergi kesana. Hanya tebakan saya saja. Haha... :p)

Berpindah dari Blue Point akhirnya saya diajak ke Ubud. Sejak dulu saya punya keinginan menyepi di Ubud barang sepekan. Tapi tak apalah kali ini hanya berkeliling Ubud seharian saja.

Sebelum sampai di Ubud kami singgah untuk sarapan di sebuah rumah makan dekat pasar seni Sukawati yang menyajikan ayam betutu. Kuliner Bali yang satu ini memang sudah terkenal kemana-mana. Ayamnya lembut dipadu dengan bumbu yang kaya rasa dan cabai. Enak! Pokoknya enak!

Di Ubud, jangan sampai melewatkan pemandangan sawahnya yang berundak-undak dan menjadi Warisan Budaya Dunia oleh UNESCO pada Juni 2012 yang menggunakan sistem pengairan yang disebut subak. Subak merupakan salah satu sistem kemasyarakatan adat Bali yang khusus mengatur sistem pengairan sawah (irigasi). Warna hijau sawahnya benar-benar menyejukkan mata. Kita bisa berjalan-jalan di sepanjang pematang sawah dan mengambil gambar disana.

Jangan lupa dengan Monkey Forest yang juga terletak di Ubud. Banyak monyet-monyet yang berkeliaran di dalamnya mulai dari monyet yang ingin tau (dia memanjat punggung papa dan mengaduk-aduk isi saku baju Papa), monyet yang sok kenal (baru masuk monkey forest tau-tau ada monyet yang tiba-tiba menghampiri dengan pandangan mata meyakinkan seolah-olah sudah lama kenal dan langsung bergelantungan di tangan sepupu saya dan sukses membuat sepupu saya menjerit seperti orang yang baru saja ditinggal nikah. Haha...), monyet jahil (kacamata hitam pengunjung – bukan kacamata saya loh – diambil dan dipakai) sampai monyet cuek (saking cueknya mau difoto dan mau dielus dia nyantai aja).

Meskipun hanya tiga hari, Bali telah mampu membuat saya jatuh suka padanya. Benar apa kata orang-orang yang pernah berkunjung kesana, feels like home. Bali selalu membuat orang yang datang merasa sedang 'pulang ke rumah'. Apalagi yang lebih nyaman selain pulang ke rumah sendiri?

I look at you and I'm home – Dory, Finding Nemo

Sebelum bepergian kesana dan ingin tau lebih banyak tentang Bali, kunjungi saja situs Indonesia.Travel yang memiliki panduan bagaimana dan apa yang harus dilakukan di Bali.

Ini dia sedikit gambaran tentang Bali yang disajikan dalam bentuk video (benar-benar hanya sedikit. Untuk menikmati lebih banyak lagi keindahannya, Anda harus datang langsung kesana!)

Link rujukan
Indonesia.Travel
Gambar merupakan koleksi pribadi dan diambil dari :
heavenlybaliweddings 
Wikipedia
1001malam 
 

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)