CINTA YANG DIAM

Fhlea bergetar memegang kertas lusuh yang telah menguning itu. Perasaan sedih yang luar biasa menghantuinya. Kertas itu nyaris habis dimakan rayap kalau saja tidak dimasukkan ke dalam sebuah kantong plastik, bersama beberapa lembar foto, buku tulis dan sebuah buku harian.

Foto dan buku hariannya telah lama diketahui Fhlea. Dia bahkan telah membacanya hingga selesai, meskipun beberapa helai fotonya agak buram, tapi foto hitam putih itu masih menunjukkan seraut wajah cantik neneknya. Fhlea tidak pernah sadar bahwa muara semua foto dan buku harian itu ada di dalam sehelai kertas usang itu. Saat membongkar barang-barang lama neneknya, Fhlea jauh lebih tertarik dengan foto-foto lama dan buku harian kuno itu. Tapi setelah membaca akhir dari buku harian neneknya, Fhlea tahu masih ada satu hal yang tertinggal. Surat itu. Surat yang tak pernah sempat disampaikan itu.


15 September 1950
Terima kasih untuk senyuman itu. Untuk sebuah perhatian kecil saat aku kehilangan pensilku. Terima kasih untuk senyuman itu. Untuk sebuah teguran halus saat aku meninggalkan kelas.
Terima kasih untuk senyuman itu. Untuk sebuah pengorbanan saat aku kehujanan. Terima kasih untuk senyuman itu. Untuk sebuah cerita lucu yang membuatku tertawa.
Terima kasih untuk semangat yang kau berikan
Terima kasih untuk nasihat yang ka sampaikan
Terima kasih untuk ketegaran yang kau berikan
Dan terima kasih, untuk air mata yang kau genangkan.
Apa aku pernah mengatakan kepadamu sebelumnya?
Aku kuat. Aku cukup kuat untuk menunggumu kembali.
-Seruni-


Itu isi surat yang ditulis lima puluh tahun yang lalu. Nama neneknya adalah Seruni, dan sepertinya surat itu ditujukan untuk seseorang yang sering disebutkan neneknya dalam buku hariannya. Seseorang yang memenuhi lembar demi lembar hidup neneknya di masa muda, yang sayangnya tak pernah disebutkan namanya. Nenek hanya menggunakan kata ganti ‘dia’ untuk orang itu.

Fhlea membuka-buka sebuah buku tulis yang ada dalam kantung plastik bersama foto, surat dan buku harian neneknya, siapa tahu di sana terselip sebuah nama, pemilik nama yang terus ditunggu neneknya hingga 50 tahun ini.

Neneknya memang tak pernah cerita, Fhlea pun sebenarnya tidak dekat dengan neneknya. Tapi semenjak neneknya sakit sebulan yang lalu, Fhlea jadi sering menemani neneknya, dan menangkap kebiasaan ganjil sang nenek, memandangi rinai hujan di tepi jendela setiap kali hujan turun, dengan wajah tersenyum. Hanya pada saat hujan turun itulah Fhlea dapat melihat wajah neneknya yang tersenyum. Cantik. Batin Fhlea.

Beranjak dari senyum misterius itulah, Fhlea tertarik mengetahui masa lalu neneknya, masa lalu yang menurut ibu Fhlea datar-datar saja, tak ada yang istimewa. Menurut ibunya, selepas lulus SMA, Seruni-neneknya, pergi kuliah di Belanda dan kembali ke tanah air 7 tahun kemudian dengan mengantongi gelar sarjana tekhnik arsitektur.

Beberapa tahun berikutnya diwarnai dengan kesuksesan sang nenek bekerja di sebuah kantor konsultan dan kemudian menikah dengan kakeknya, atasannya di kantor itu. Itu saja, tak ada yang spesial.

Lalu kenapa ada yang beda ketika nenek melihat hujan?Fhlea tahu neneknya tidak sedang mengenang kakeknya. Kakeknya itu amat benci hujan. Karena setiap hujan penyakit pernafasan kakek selalu kambuh. Kakeknya meninggal 5 tahun yang lalu pun karena gangguan pernafasan akut. Jadi pasti nenek tidak sedang tersenyum kepada kakeknya.

Lantas apa arti senyuman hujan itu?
Fhlea ditugaskan ibunya membersihkan kamar tidur nenek saat neneknya dirawat di rumah sakit. Dari sebuah kotak kayu yang tersimpan rapat di relung lemari, Fhlea tau rinai hujan itu mempunyai arti yang amat besar bagi neneknya. Foto-foto bisu itu pun dapat menjelaskan semuanya. Dua orang remaja yang berdiri berjauh-jauhan tapi saling memandang, dipisahkan oleh teman-teman mereka yang lain. Sayang sama sekali tidak ada nama di sana agar Fhlea dapat mengetahui siapa dia yang ada di foto itu.

***

Fhlea membawa surat itu ke rumah sakit, berharap neneknya mau menceritakan sedikit saja, siapa ‘dia’ itu. Sedikit saja untuk memahami, mengapa rasa itu tak pernah hilang setelah lima puluh tahun lewat, bahkan setelah neneknya memiliki keluarganya sendiri. Kebahagiaan yang lain. Fhlea menyodorkan surat itu pada neneknya yang sedang duduk lemah di atas kursi roda. Setelah itu dia berjongkok di hadapan neneknya, menanti reaksi neneknya.

Nenek Seruni tersenyum lemah memandang tulisan tangannya sendiri lima puluh tahun yang lalu itu. Berusaha menahan tawa, dan mulai membaca kata demi kata. Meskipun usianya sudah 68 tahun, mata nenek Seruni masih awas.

Selesai membaca surat itu, nenek Seruni membelai-belai rambut Fhlea. Dia seumuran Fhlea waktu itu, jatuh cinta pada seseorang, sama sekali tak berani mengatakannya, dan membiarkannya menjadi cinta yang diam selama lima puluh tahun. Lima puluh tahun, tapi Seruni masih ingat masa-masa itu. Detilnya, perasaannya, percakapan yang dilakukannya, semuanya, Seruni ingat semuanya.

“Apakah rasa itu masih ada, Nek?” Tanya Fhlea pelan. Nenek Seruni kembali tersenyum, tak mengangguk ataupun menggeleng. “Siapa ‘dia’?” Tanya Fhlea lagi.

Nenek Seruni hanya diam, hingga tak terasa baginya dua butir bening jatuh di wajah keriput itu. Fhlea menyeka butir air mata itu dan memeluk neneknya. “Ceritakan padaku, Nek”

***

Lima puluh tahun yang lalu, Seruni kelas tiga SMA, delapan belas tahun umurnya. Dan ‘dia’ adalah teman sekelas Seruni, seorang juara kelas, saingan berat Seruni merebut tahta peringkat 1 di kelas. “Hanya dia yang bisa membantah semua argumen-argumenku” ucap nenek Seruni pelan, tapi tak mampu menyembunyikan rona diwajahnya.

Dia membantu Seruni saat Seruni datang terlambat ke sekolah dan dihukum membersihkan ruang guru. Dia selalu tersenyum kepada Seruni, dalam suasana apapun. Dia pula yang menyemangati Seruni untuk mengambil beasiswa ke Belanda itu, sementara dia sendiri, Seruni tak tahu akan kemana selepas lulus SMA. Dia mendesak Seruni agar tak menyia-nyiakan kesempatan emas itu, padahal Seruni tak ingin meninggalkan dirinya. Sama sekali tidak ingin.

Dia terus-terusan membujuk Seruni agar menerima tawaran beasiswa itu. Seruni hanya diam, tak mampu berkata apa-apa bahwa dirinya keberatan meninggalkan dia. Semenatara dia sedang berkomat kamit memuji kualitas pendidikan di luar negeri, berkata betapa hebatnya orang pribumi yang dapat bersekolah di luar, seorang wanita lagi. Hebat, sungguh hebat.

Seruni diam.

Lantas semuanya berjalan seperti biasa. Mereka masing-masing sibuk mempersiapkan diri untuk ujian akhir, tak sempat lagi membahas masalah beasiswa itu.

“Kenapa kau tidak ikut mencoba ikut beasiswa ke belanda?” Tanya Seruni suatu hari, saat mereka telah selesai ujian, tinggal menunggu pengumuman. Dia hanya tersenyum dan menggeleng.

“Mana mungkinlah aku sanggup hidup di luar negeri, Ni. Aku tak punya Bapak lagi, selepas lulus aku mau langsung kerja. Kuliahnya nanti sajalah dulu. Adik-adikku yang 3 orang itu harus sekolah dulu.”

Lagi-lagi Seruni diam.

“Harusnya kau paham, Ni. Kenapa aku begitu memaksa kau supaya menerima beasiswa itu. Kau beruntung, tidak harus bekerja membiayai adik-adik kau. Ayah kau seorang pejabat. Karena itu kau harus ke Belanda, Ni”

Seruni menggigit bibirnya, “Ta-tapi aku, aku… apa kita tidak akan bertemu lagi?”

Dia tertawa lepas “Tentu saja aku akan bertemu kau, tapi asal kau sudah jadi presiden, supaya gampang aku cari alamat kau. Cukup ke istana presiden saja. Hahaaa”. Bahunya terguncang, tertawa. Seruni pun ikut tertawa ringan. Tiba-tiba hujan turun, tidak terlalu deras. Mereka berdua yang sedang berdiri di teras sekolah menghindari tampias. Tapi sedetik kemudian dia menarik lengan baju Seruni, mengajak Seruni ke tangah lapangan, mandi hujan. “Supaya kau ingat kalau aku pernah ajak kau hujan-hujanan. Supaya kau ingat aku setiap kau melihat hujan turun seperti saat ini”

Seruni mengangguk kencang, pasti, aku pasti akan sangat mengingatnya. Air matanya hilang dilarutkan hujan.

Itu saat-saat kebersamaan terakhir mereka. Setelah itu Seruni benar-benar mengikuti sarannya pergi ke Belanda. Sementara dia, Seruni sama sekali tak tahu dimana keberadaannya.

“Hujan itu selalu mengingatkan nenek tentang dia, apalagi setelah hujana-hujanan itu nenek sakit” nenek Seruni terkekeh. Fhlea ikut tertawa.

“Dan kakek? Dimana nenek bertemu kakek?”

“Setelah pulang dari Belanda dan mengantongi gelar sarjana, nenek bertemu kakek. Kira-kira sekitar 8 tahun setelah nenek berpisah dengan dia. Kakekmu melamar nenek, dan saat itu nenek sadar, meskipun nenek mencintai seseorang yang lain, kakekmu juga pantas mendapatkan cinta nenek. Dia pria terbaik yang pernah nenek kenal”

***

Sebulan kemudian setelah percakapannya dengan Fhlea, nenek Seruni menghembuskan nafasnya yang terakhir, tapi sebelum itu, nenek Seruni berpesan pada Fhlea, jika sempat, jika takdir mengijinkan, berikanlah surat itu kepada ‘dia’. Sahabat masa remaja nenek.

“Tolong temukan dia dan berikan surat itu. Aku hanya ingin mengucapkan terima kasih. Terima kasih untuk lima puluh tahun hidup bersama rasa cinta kepadanya yang tumbuh di hatiku. Untuk rasa cinta yang terus akan aku bawa semampuku. Untuk cintaku yang diam.

“Tapi kau harus tahu, Fhlea. Kenapa selama lima puluh tahun ini nenek tak pernah mencarinya. Itu karena kakekmu. Nenek menyimpan cinta yang diam ini, karena ada cinta yang bersuara yang diberikan kakekmu. Dia adalah hal terindah yang pernah menjadi milik nenek. Dan kau tahu Fhlea, cinta yang bersuara itu jauh lebih indah. Indah tak terperi. Dia memberimu kebahagiaan yang lain.”

Fhlea tak tahu harus mencari dimana ‘dia’ itu. Hanya ada sebuah nama yang diberikan neneknya. Nama yang akhirnya bisa neneknya sebutkan lagi, setelah lima puluh tahun dia menyimpan nama itu dalam cintanya yang diam. Wildan.

***

Ternyata tak sesulit itu. Wildan yang bersekolah di SMU yang sama dengan neneknya, yang sekelas dengan neneknya, dan yang juara kelas hanya satu. Nama Wildan dengan mudah ditemukan di antara daftar murid di buku tahunan usang di tempat penyimpanan barang pribadi milik neneknya. Dan Fhlea tak perlu bersusah-susah mencari ‘dia’. Karena setiap tahun, pada tanggal yang sama, 15 September, sejak lima puluh tahun yang lalu, dia selalu datang ke taman depan sekolah itu, begitu kata penjaga sekolah tua yang telah bekerja berpuluh-puluh tahun yang lalu di SMA tempat neneknya bersekolah saat Fhlea menanyainya.

Kakek tua yang masih sehat itu berjalan pelan ke bangku taman, merapatkan jaketnya karena sore itu hujan sedang gerimis, tanggal 15 September – hari perpisahan Wildan dengan Seruni, tiga bulan setelah kematian nenek Seruni. Fhlea mendekati pria itu, menyapanya dengan sopan.

“Selamat sore, boleh saya duduk pak?”

Kakek tua yang masih tampan itu tersenyum. Dia mengusap bangku di sampingnya dan mempersilahkan Fhlea duduk. “Silahkan, nak”

Fhlea duduk dan menarik nafas panjang. “Kenapa Bapak duduk di sini hujan-hujanan? Selidik Fhlea.

Kakek itu tersenyum “Kamu juga kenapa kesini hujan-hujanan?” dia balas bertanya.

“Hujan mengingatkanku pada seseorang” jawab Fhlea pelan.

“Aku juga” jawab kakek itu tak kalah pelan. Dia merapatkan lagi jaketnya dan memperbaiki syalnya. “sayang, usiaku tak muda lagi. Aku jadi lebih mudah kedinginan belakangan ini. Padahal dulu tidak”

Fhlea kembali menarik nafas panjang, kemudian mengeluarkan sesuatu dari sakunya. “Pak Wildan kan? Ada surat untuk bapak dari seseorang”

Wildan memandang Fhlea dengan amat heran. “Darimana kau tahu namaku?”

“Dari seseorang lima puluh tahun yang lalu”

Wildan meraih surat bersampul coklat itu, membukanya pelan dan menyipitkan matanya membaca surat yang hanya beberapa baris itu. Sampai di akhir surat, tangan Wildan bergetar. Bibirnya tanpa sengaja mengucap nama Seruni. “Darimana kau dapatkan…?”

“Nama nenekku Seruni, teman bapak lima puluh tahun yang lalu. Nenek baru saja meninggal tiga bulan yang lalu. Nenek minta menyerahkan surat ini kepada bapak, surat yang seharusnya nenek serahkan lima puluh tahun yang lalu. Untuk cintanya yang diam”

Bahu Wildan terguncang, bukan karena tertawa seperti waktu itu, tapi berusaha menahan tangis. Fhlea pun tak mampu membendung butiran air matanya.

“Cinta yang diam?” Tanya Wildan.

“Cinta yang nenek simpan dalam diam selama lima puluh tahun lalu. Nenek bahkan teramat kuat untuk menunggu.”

Wildan akhirnya membuka suara “Aku tahu dia telah kembali ke Indonesia. Aku tahu dia telah bekerja di kantor konsultan” Wildan menunduk, meremas buku-buku jarinya “Aku tahu semuanya. Tapi aku malu, aku sadar siapa aku ini. Saat itu aku hanya seorang pegawai honorer dengan gaji yang tak seberapa. Mana mungkin aku menikahi anak seorang pejabat lulusan luar negeri. Aku tahu ketika dia akan menikah dengan atasannya, dan aku hanya bisa menyesali nasib menjadi seseorang yang berada di luar kastanya. AKU HANYA BERHARAP DIA MENGINGAT HUJAN ITU. MENGINGAT SEDIKIT HAL TENTANGKU. Itu saja” Wildan mulai tergugu. “Aku melihatnya menikah, aku juga mendengarnya memiliki anak. Tapi siapa aku ini? Mengharapkan dia mau menikah dengan seorang pegawai negeri biasa? Sementara dia sudah memiliki berbagai perusahaan. Aku memutuskan untuk keluar dari hidupnya saat itu juga”

“Nenek masih ingat hujan itu. Nenek selalu tersenyum memandang hujan. Tak pernah sedikit pun, tak pernah sedetik pun nenek lupa dengan hujan itu.” ucap Fhlea pelan.

“Kenapa dia tidak mengatakannya sejak awal?”

“Nenek merasa cukup kuat untuk menunggu bapak yang lebih dulu mengatakannya. kurasa...”

Wildan menggeleng, menyesal. “Dan kenapa pula dia harus berterima kasih padaku?”

“Untuk rasa cinta itu. Untuk itu. Selama lima puluh tahun ini, nenek hidup dengan rasa cinta yang dia simpan di hatinya. Rasa cinta yang tumbuh dan mati bersamanya. Cintanya yang diam”

Wildan menutup kedua wajahnya dengan tangannya. Dia sempurna menangis. Bahunya berguncang, tergugu. Surat itu telah jatuh melayang ke tanah, ah, andai saja surat itu tak perlu ada…

Wildan yang bodoh, kenapa sejak dulu dia tidak menyadarinya? Ada cinta di mata Seruni. Ada bintang di mata gadis itu, yang akan berbinar setiap kali Wildan bicara padanya. Kenapa dia begitu bodoh?

Fhlea memeluk Wildan erat. Tak mampu menyembunyikan tangisnya. Bahkan dia pun menyesal, mengapa dua orang yang saling mencintai ini tak bisa bersama. Dua orang dengan rasa cinta yang hebat, menyimpan asanya selama lima puluh tahun. Memendam rasanya hingga maut menjemput. Menyembunyikan segalanya hingga tak ada seorang pun yang tahu. Menutupinya rapat-rapat, membungkusnya baik-baik, dan meletakkannya di sudut hati mereka masing-masing. Ah, betapa menyedihkannya. Cinta yang diam.

09 Juli 2010

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)