Di Balik Senja

Dua orang wanita tua berjalan pelan memasuki sebuah bangunan tua yang terbengkalai tapi masih tampak kokoh. Meskipun telah ditutupi debu dan tanaman liar, melingkar-lingkar seperti ular di selusur-selusur jendela, menimbulkan kesan horor bagi siapa saja yang mendekatinya, bangunan itu tetap menunjukkan kalau dulu dia menjadi tempat di mana sebuah energi besar berpusat. Energi sekelompok kaum muda yang tak ingin ditindas oleh kekuasaan dan kekayaan.

Dua wanita itu memasuki bangunan melalui pintu masuk utama yang tak pernah terkunci lagi sejak dua puluh tahun yang lalu. Bekas jarahan dan pengrusakan oleh orang-orang yang dibutakan matanya oleh kekuasaan masih tergores jelas di setiap senti bangunan, menyebabkan banyak luka yang tak tersembuhkan hingga saat ini. Siapa bilang waktu dapat mengobati semuanya? Bagi penghuni bangunan ini berpuluh-puluh tahun silam, waktu bagi mereka seakan terhenti. Setelah mereka diusir dengan paksa dari tempat mereka berkumpul menyuarakan kebenaran. Waktu tak pernah lagi bergerak bagi mereka, yang tersudut dan terbuang oleh kekejaman tangan besi pemimpin negara.


Runi dan Jasmin, nama dua orang wanita tua yang berusia sekitar 50-an itu. Meskipun tampak renta, wajah mereka masih bersinar seperti saat mereka masih bekerja di majalah Tjahaja, 30 tahun silam. Ya, mereka berdua wartawati yang siap menyuarakan kebenaran walau harus mati sekalipun. Dua wanita yang telah berperan banyak mengabarkan pada dunia, bahwa negara mereka tak seharmonis kelihatannya. Bukan hanya mereka berdua, tapi seluruh kru Tjahaja berperan banyak dalam melawan pemerintah sehingga mereka dianggap berbahaya dan harus ‘dihapuskan’.

Jasmin, 55 tahun, dulunya adalah wartawati yang sering meliput pergerakan organisasi kiri. Seorang wanita keras kepala yang memutuskan tak menikah. Pengalaman pahitnya saat masih menjadi wartawan dulu, dilecehkan saat sempat menjalani hukuman kurungan, membuatnya merasa jijik pada laki-laki.

Runi, 57 tahun. Dulu dia adalah atasan Jasmin, pemimpin para wartawan di majalah Tjahaja. Wanita tua itu sekarang telah berkerudung panjang, benar-benar tak seperti 30 tahun yang lalu, saat dia masih menjadi wartawan. Gayanya tomboy, selalu memakai gelang-gelang karet yang banyak di tangannya. Rambutnya panjang dikuncir, dan sama sekali tak pernah memakai rok. Kini dia kembali dengan memakai jubah longgar dan jilbab menutup dada. Runi adalah mesin penggerak bagi majalah mereka. Dia yang paling keras menyuarakan kritik dan protes pada pemerintah. Tapi dia jauh lebih beruntung, saat gelombang penangkapan besar-besaran setelah peristiwa pembantaian massal para pejabat tinggi Negara, dia ditawarkan pekerjaan oleh sebuah majalah di Amerika. Maka selamatlah dia dari penangkapan besar-besaran itu.

Runi bahkan jauh lebih keras dari Jasmin. Bagi dia, yang menjadi tujuan hidupnya hanyalah menyarakan kebenaran. Dia tak takut mati demi tujuannya itu. Karena itulah banyak yang mempertanyakan keputusannya meninggalkan Tjahaja saat terjadi penangkapan besar-besaran. Dia tak sepengecut itu lari begitu saja. Lalu apa yang membuatnya meninggalkan teman-temannya? Tak ada seorang pun yang mengetahui alasannya kala itu.

Jasmin tertawa ketika mereka memasuki ruang rapat yang luas dan memanjang, penuh dengan kursi-kursi berputar yang karatan. Mereka ingat, dahulu ini ruang yang selalu mereka pakai untuk rapat, memilih berita, menyusunnya, semuanya berpusat di sini. Dari ruangan inilah energi mereka berkumpul. Senang, sedih, kecewa, marah, sakit hati, bahagia, menangis, tertawa...semuanya mereka lakukan di sini. Jasmin meraih sebuah kursi karatan, menepuk debunya dengan tangan sehingga tangannya menjadi kecoklatan, dan duduk di atas kursi itu. Jasmin memang belum berubah, selalu cuek dengan keadaan. Dia bahkan bisa tidur di atas monas jika memang dia ingin tidur, atau makan di samping tong sampah jika memang dia ingin makan. Dia akan melakukan apa yang memang dia inginkan, dan itulah yang membuatnya amat cocok dengan Runi.

“Ayo, duduk” ajak Jasmin.

Runi menggeleng, memandang sekeliling ruangan. Pandangannya berhenti pada sebuah jendela lebar yang kacanya telah pecah semua. Runi berjalan ke arah jendela, tertawa. “Kau ingat? Kita sering duduk di jendela ini setiap malam. Pak Imam sering memarahi kita kalau dia melihat kita duduk di bingkai jendela.”

Jasmin mengangguk. Tentu saja dia ingat pada masa-masa itu. Pak Imam adalah pemred mereka, sama idealisnya dengan seluruh anak buahnya. Sayang, kabar terakhir yang mereka dengar setelah Pak Imam ditangkap adalah beliau meninggal di penjara.

Runi berdiri di jendela yang tak lagi memiliki kaca, membiarkan wajahnya diterpa angin. Dia memejamkan matanya, mengingat lagi masa-masa perjuangan itu, bersama teman-temannya. Mereka memiliki ikatan emosional yang sangat kuat karena kesamaan visi dan misi, bahkan mereka tetap bekerja meskipun sempat tidak digaji gara-gara majalah mereka diboikot pemerintah selama beberapa bulan.

“Jadi kapan kau akan cerita kenapa kau meninggalkan kami, Runi?” kata Jasmin dari belakang “semua itu masih menjadi teka-teki bagi kami sejak 20 tahun yang lalu. Kau memberikan alasan yang sangat pengecut, dan kami tahu alasan itu tidak benar. Kau tak sepengecut itu, melarikan diri agar tak ditangkap...”

“Memang itu alasannya, Jasmin” potong Runi “terimalah kenyataan, aku tak sehebat sangkaan kalian. Aku bukan seorang pemimpin yang baik dan patut kalian banggakan. Aku meninggalkan kalian, aku lari...”

Jasmin menggeleng. “Kami tahu itu tidak benar. Sampai kapanpun kau adalah wartawan kebanggaan kami. Aku melihatmu menangis saat kau berhenti sejenak di pintu keluar. Tangisan yang tak pernah kulihat sebelumnya...”

“Apa maksudmu?” Runi berbalik, memandang Jasmin.

“Aku tahu kau jarang sekali menangis, tapi bukan berarti kau tak pernah menangis. Aku pernah melihatmu menangis saat mayat seorang anak laki-laki diangkut ke atas truk oleh para relawan bencana alam. Aku juga pernah melihatmu menangis saat seorang ibu divonis hukuman mati karena membunuh suaminya yang kau yakin sekali dia tak bersalah. Tapi aku tak pernah melihatmu menangis seperti sore itu, saat terakhir kali aku melihatmu. Matamu benar-benar...basah

Runi tertawa “alasanku meninggalkan kalian jauh lebih pengecut dari sekedar melarikan diri. Jauh lebih pengecut dari sekedar akan di penjara. Kau tak akan percaya dengan alasanku, Jasmin. Sudah kukatakan, aku tak setegar yang kalian lihat. Aku kalah dalam pertarungan itu, dan aku memutuskan untuk lari. Kalau saja penjara lebih baik buatku, maka aku akan memilih untuk masuk penjara”

Mulut Jasmin terkatup rapat melihat Runi yang tertawa ironis. Mata wanita tua itu berkaca-kaca. Tawanya terdengar jauh lebih menyakitkan daripada tangisnya, membuat Jasmin si wanita baja ini merinding. Apa yang sebenarnya terjadi dengan Runi? Batinnya.

“Jasmin, kita sudah bersahabat selama 10 tahun” kata Runi pelan setelah tawanya reda. Dia bersandar di kusen jendela, memandang lurus pada sahabatnya yang masih duduk diam di atas kursi, memandangnya seolah-olah Runi adalah orang yang baru dikenalnya.

Jasmin hanya diam, tak menanggapi. Sepertinya dia sedang mengingat-ingat sesuatu. “Kurasa aku tahu...” gumam Jasmin pelan, baru teringat pada satu hal. “astaga...kurasa aku tahu Runi” katanya tergagap. Sebuah kenyataan tiba-tiba memasuki alam pikirannya dalam sekejap, membuat semuanya menjadi terang benderang.

“Apa itu? Apa yang kau tahu?”

Jasmin mendekap mulutnya dan menggelang, mencoba menolak kenyataan yang baru saja menyerbu kepalanya. Sangat jelas! Bagaimana mungkin dia tak menyadarinya! Astaga...dia telah menghancurkan semuanya...

“Aku tahu kenapa kau pergi...” Jasmin berkata pelan, matanya berkaca-kaca “karena dia kan?” Jasmin menunjuk sebuah kursi di sudut ruangan. “dia yang sering duduk di kursi itu”

Runi berpaling ke arah yang ditunjuk Jasmin, ke sebuah kursi reyot yang berkarat, masih berada di tempatnya sama seperti 20 tahun yang lalu, ketika terakhir kali dia melihat pemilik kursi itu duduk di atasnya. Runi menarik nafas panjang.
“Kenapa kau tak bilang padaku, Runi?” sentak Jasmin tiba-tiba “aku bisa memperbaikinya. Aku melihat kau pergi dengan menangis, dan aku juga melihat dia duduk menutup wajahnya dengan tangan di kursi itu. Dan dia juga menangis sama sepertimu!”

Nafas Runi tercekat “apa maksudmu?”

“Dia juga menangis!” ulang Jasmin nyaris membentak “dan kenapa kau begitu sombong, tak mau mengatakannya padaku bahwa kau jatuh cinta?” teriak Jasmin.

Tubuh Runi berguncang, seperti ada aliran listrik yang menyengatnya. Dia berpegangan pada kusen jendela. “darimana kau tahu? Aku...aku selalu menyembunyikannya selama ini. Aku tak bilang pada siapapun, bahkan pada suamiku yang sekarang. Bagaimana kau...”

“Aku melihatmu berdiri lama di depan mejanya, Runi” jelas Jasmin setelah dia mulai tenang “dan aku juga pernah melihat dia juga berdiri lama di depan mejamu. Dan kau tahu? Dia yang menulis puisi dan meletakkannya di lemarimu. Aku melihatnya menaruh surat itu di sana, tapi aku sama sekali tak curiga, aku melihat dia membeli piringan hitam sama persis dengan yang baru kau beli sebelumnya. Aku melihatnya membeli buku yang sama persis dengan buku yang juga baru kau beli. Tapi saat itu aku belum menyadari apapun...sampai saat ini. Yah, saat ini aku baru meyadarinya”

Runi menggelang “itu tidak mungkin! Dia bahkan tak pernah memperhatikan apapun yang aku pakai. Sejak aku tahu dia menyukai warna biru, aku selalu memakai baju berwarna biru, membeli gelang berwarna biru, tapi dia tak pernah sadar. Dia bahkan tak pernah sadar kalau aku seorang wanita!”

Jasmin menggeleng. “Itu tidak benar! Dia juga mencintaimu kalau kau mau tahu! Itu pendapatku, dan pendapatku selalu berdasar fakta”

“Dia mau meninggalkan Tjahaja, Jasmin!” seru Runi “Dia mendapat tawaran bekerja di Australia. Dia ingin mengkhianati kita! Kita hanya dijadikan batu loncatan karena majalah kita begitu terkenal dan penuh kontroversi di luar sana. Karena itulah dia mau bergabung dengan kita, seorang anak pejabat yang kaya raya dan manja. Apa kau tak heran kenapa dia yang begitu hidup enak mau hidup hanya dengan sebuah idealisme?”

“Itu yang dikatakannya?” tanya Jasmin

“Ya! Itu yang dikatakannya padaku saat aku bilang padanya kalau aku menerima tawaran majalah Amerika itu. Dia mengatakannya tanpa rasa bersalah padaku”

“Tapi dia tak pernah menerima tawaran itu, Runi. Dia bahkan menerima jauh lebih banyak tawaran yang menjanjikan daripada yang ditawarkan padamu. Tak ada satu pun yang dia terima. Kau seharusnya mendengar lebih banyak daripada yang seharusnya, bukankah itu prinsip seorang wartawan? Kenapa kau menjadi begitu bodoh dan tak mencari fakta lainnya? Dia tak pernah menerima tawaran pekerjaan lain karena di Tjahaja dia dapat melihat dirimu. Karena aku melihat semua surat tawaran itu menumpuk di lacinya, beberapa bahkan ada yang sama sekali belum dibacanya. Tawaran dari Australia yang kau dengar adalah tawaran paling akhir yang sempat diterimanya” Jasmin menekankan kalimat terakhirnya ”dan kurasa yang dia katakan itu hanya luapan rasa marah, karena justru kau yang akan meninggalkan dia.”

Mata Runi berkaca-kaca, memandang kosong ke arah kursi di sudut itu sekali lagi. Menggeleng keras mencoba menolak semua fakta yang dilontarkan Jasmin tentang dia. Pramudya, bawahannya di Tjahaja dulu. Seorang pria yang berotak sangat cemerlang dengan latar belakang kehidupan yang indah. Dia sepuluh tahun lebih muda dari Seruni, seorang sarjana yang melamar kerja di Tjahaja. Siapa sangka pria muda yang tampak lemah itu ternyata juga sangat keras mengkritik pemerintah lewat tulisan-tulisannya. Dia sudah bolak-balik masuk penjara, menjadi martir perjuangan teman-temannya. Hanya karena dia anak seorang pejabat penting, karena itulah dia mudah melenggang keluar masuk penjara.

“Setelah kau pergi, Pramudya menggantikan posisimu” lanjut Jasmin “merombak semua hal yang kau tinggalkan dan jauh lebih terang-terangan menerkam pemerintah. Gara-gara dia oplah kita sempat naik dengan sangat pesat, penjualan terbaik selama 10 tahun Tjahaja berdiri. Tapi kau tahu kan, pemerintah jadi sangat sensitif setelah peristiwa pembantaian itu. Kami diserang oleh para tentara, diusir keluar dari bangunan ini. Majalah kita ditutup, dianggap sebagai antek-antek pemberontak hanya karena kami menyuarakan kebenaran. Pramudya ditangkap. Tapi sayangnya, ayah Pramudya sudah bukan lagi seorang pejabat, ayahnya juga sudah ikut digulingkan. Pramudya tak bisa keluar penjara seenaknya lagi seperti dulu”

“Setelah kami diusir dan tempat ini disegel, aku sempat kembali diam-diam kesini mengambil barang-barangku. Saat itulah aku melihat benda itu ada di dalam laci mejanya yang sudah terlepas dari meja dan tergeletak di atas lantai. Benda itu ada di atas tumpukan surat-surat penawaran kerja, yang mungkin membuatnya tak bisa menerima tawaran itu, yang memang masih terus berdatangan setelah kepergianmu.”

“Benda apa itu?” tanya Runi

“Kartu Identitas wartawan milikmu, yang kau buang di tempat sampah depan kantor saat kau pergi meninggalkan kami”

Runi ternganga.

“Kau tak tahu ya? Kalau dia mengejarmu saat kau pergi dari tempat ini? Sayang dia tak sempat menyusulmu, dan hanya menemukan kartu identitas itu di dalam tong sampah”

Runi menggeleng tak percaya, air matanya jatuh membasahi kerudungnya. Bagaimana mungkin dia mau percaya dengan kenyataan menyakitkan itu? Pramudya adalah pria pertama yang membuatnya jatuh cinta. Tapi rasa gengsi itu begitu tinggi menutupi dirinya. Hanya karena dia adalah atasan dari pria itu, dan usia mereka yang terpaut begitu jauh, sehingga dia merasa malu untuk menceritakan perasaanya pada Jasmin, sahabatnya sendiri.

“Kalau saja kau cerita padaku tentang perasaanmu, aku mungkin akan menceritakan bagaimana sikap Pramudya padamu yang tidak kau ketahui. Mungkin saja aku dapat memperbaikinya. Mungkin saja kau tak akan pergi. Dan mungkin saja Pramudya tak akan bersikap segila itu dengan mengorbankan majalah kita”

“Pramudya memang gila. Itu yang membuatku mencintainya” kata Runi, kemudian dia tergugu. “Kau tahu dimana dia sekarang?”

“Maaf, aku tidak tahu. Kau tahu sendiri kan bagaimana penangkapan itu? Tanpa proses pengadilan, tanpa dimintai keterangan...pulang menjadi mayat jauh lebih baik, karena ada beberapa yang bahkan mayatnya pun tak dikembalikan”

Runi mengangguk, mengetahui kabar Pramudya seperti mencari jarum di tumpukan jerami. Tidak mustahil, tapi hanya akan menghabiskan seluruh tenaga dan waktunya. Dia ingat puisi yang diberikan Pramudya diam-diam itu. Ah, kenapa dia tak pernah sadar kalau itu hasil karya Pramudya? Dia tak pernah menyangka Pramudya yang keras kepala itu bisa membuat puisi.

Seperti burung yang terbang di angkasa, begitulah aku melihatmu
Bebas, terbang tak terbatas melampaui rasio dan logika
Mematahkan teori relativitas di kepalaku
Seperti hujan yang basah, begitulah aku melihatmu
Basah, basah, dan basah oleh keringat darah
Memperjuangkan idealisme jajar genjangmu
Seperti angsa yang berenang di kolam, begitulah aku melihatmu
Angkuh tapi anggun, malu-malu tapi kejam
Membuat kau terlihat sangat cantik di mataku


Runi menangis, baru menyadari satu hal
Pramudya sering memanggilnya dengan nama Hujan...

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)