Syair itu adalah ini....

Tadi pagi aku iseng buka lagi grup FB Kapten Anumerta Pierre Tendean. Dan tanpa sengaja mataku menangkap sebuah lirik lagu yang dituliskan seorang anggota grup di wall yang entah kenapa membuatku berseru dalam hati : Hey! Dia menyebut mata lembut yang selalu aku sebutkan untuk setiap karakter cowok dalam cerpen-cerpenku. Mata lembut yang membuat dada setiap cewek tersentak melihatnya.
Err..tidak juga. Di cerpen-cerpenku aku menulis mata yang ‘teduh’ bukan ‘lembut’. Tapi, who cares? Menurutku kurang lebih artinya sama.

Syair lagu itu adalah Nyanyian Kasmaran milik Om Ebiet G. Ade


Sejak engkau bertemu lelaki bermata lembut
Ada yang tersentak dari dalam dadamu
Kau menyendiri duduk dalam gelap
Bersenandung nyanyian kasmaran
Dan tersenyum entah untuk siapa

Nampaknya engkau tengah mabuk kepayang
Kau pahat langit dengan angan-angan
Kau ukir malam dengan bayang-bayang

Jangan hanya diam kau simpan dalam duduk termenung
Malam yang kau sapa lewat tanpa jawab

Bersikaplah jujur dan tebuka
Tumpahkanlah perasaan yang sarat dengan cinta
Yang panas bergelora

Barangkali takdir tengah bicara
Ia diperuntukkan buatmu
Dan pandangan matanya memang buatmu

Mengapa harus sembunyi dari kenyataan
Cinta kasih sejati kadang datang tak terduga

Bergegaslah bangun dari mimpi
Atau engkau akan kehilangan
Keindahan yang tengah engkau genggam

Anggap saja takdir tengah bicara
Ia datang dari langit buatmu
Dan pandangan matanya khusus buatmu


Aku sebenarnya tak tahu lagunya seperti apa. Dulu waktu kecil sih memang sering dengar lagu-lagu Om Ebit ini, Orang tuaku penggemar beliau dan mereka punya kaset-kaset CD Om Ebit meski itu Cuma kaset CD bajakan (halah). Tapi syair lagu yang satu ini sepertinya baru kudengar, rupanya daya ingatku waktu masih kecil kurang bagus. Sila resapi liriknya dan pandanglah mata lembut suami kalian.

Kau menyendiri duduk dalam gelap
Bersenandung nyanyian kasmaran
Dan tersenyum entah untuk siapa
^____^

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)