Inspirasi Itu Datangnya Dari....

Akhir-akhir ini lagi melankolis nih, lagi suka nulis cerpen-cerpen roman sekelas Layar Terkembang atau Sitti Nurbaja. Halah...tidak ding. Cuma lagi suka nulis kisah cinta yang bertahan selama berpuluh-puluh tahun. Kayanya seru juga tuh, membayangkan seorang kakek-kakek berusia 80 tahun mengenang kisah cintanya dengan sang istri yang terjalin sejak 60 tahun silam. Wuih...kisah seperti itu jauh lebih romantis dari kisah cinta manapun. Jauh lebih indah dari kisah Romeo & Juliet, Sang Pek & Eng Tay, Layla & Majnun, atau Cleopatra & Julius Cesar.

Sebenarnya sih ide awalnya gara-gara nonton trailer The Notebook. Padahal pas saya nonton ulasan filmnya saya sama sekali gak nangkap apa tema film itu, entah saat itu lagi sibuk apa sambil nonton. Hanya saja yang amat melekat dalam memori saya adalah kisah cinta sepasang remaja hingga mereka beranjak tua renta. Gak tau kenapa, saya kagum aja sama genre cerita kaya gini.


Filmnya sendiri baru saya nonton bulan lalu, dan kurang terkesan dengan cerita masa muda mereka yang hanya mementingkan hubungan fisik saja (kesimpulan yang saya ambil dari banyaknya adegan layak-sensor di film itu) dan lebih tertarik dengan kisah cinta mereka di kala telah renta. Belakangan saya selalu berdoa : Ya Allah, kalau memang usia saya nanti panjang, saya terima penyakit apapun yang akan Kau berikan padaku. Tapi satu saja, jangan sampai saya kena Alzheimer. Saya tak mau sampai mengalami hal seperti istri Noah yang kena penyakit Alzheimer. Bisa-bisanya dia lupa sama suaminya sendiri. Jangan sampai deh :(

Beberapa cerpen tentang kisah cinta klasik seperti ini sudah saya buat, tapi hanya satu yang berhasil saya selesaikan. Kisah ini terinspirasi dari foto-foto jadul punya ortu, tiba-tiba langsung terlintas aja, kayanya seru nih kalo dibuat cerpen, kan kita bisa tulis alur kisahnya sesuai dengan keinginan kita. Tak lupa ditambahkan dengan latar belakang tokoh yang dramatis biar ada unsur-unsur romannya. Hehe...

Setelah kisah cinta klasik, sepertinya seru juga kalau tulis cerita tentang Time travel. Tentang seorang gadis yang tanpa sengaja terseret ke masa lalu dan di sana bertemu dengan seorang pria yang sesungguhnya berbeda generasi dengannya lalu mereka berdua jatuh cinta. Kemudian gadis itu kembali ke masa depan dan berusaha mencari si pria yang tentu saja di masa depan sudah berusia 70 tahun lebih – ceritanya si gadis terseret ke masa 50 tahun lalu. Dan setelah mereka berdua kembali bertemu, hebatnya si pria masih cinta pada gadis itu setelah 50 tahun lewat. Dan si gadis? Melihat yang berdiri di depannya seorang kakek berusia 70 tahun sama sekali tak membuyarkan rasa cintanya pada si pria di masa lalu. Hanya saja bingung mau digimanain endingnya. Yang jelas gak mungkinlah mereka berdua bersama lagi meskipun masih saling mencintai. Beda 50 tahun loh! Tapi yaa...kita lihat saja deh gimana endingnya yang tiba-tiba muncul di kepala saya nanti.

Saya tutup catatan ngalor-ngidul saya kali ini dengan sebuah penggalan bait dari The Beatles, When I’m Sixty-Four

When I get older loosing my hair
Many years from now
Will you still need me
Will you still feed me
When I’m sixty-four

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)