Cerita Milik Melati dan Ikrar (Bag. 3)

Bab Milik Melati

“Melati, ada telepon buatmu” seorang gadis pirang dengan tubuhnya yang menjulang tinggi mengetuk pintu kamar Melati.
Melati membuka pintu kamarnya dan mendapati Jane, temannya itu sedang tersenyum-senyum penuh arti ke arahnya. “Dari siapa?” dahi Melati berkerut “kenapa kau tersenyum aneh seperti itu?”
Jane menunduk dan berbisik di telinga Melati “dari pangeranmu”
Serta merta Melati berlari ke arah telepon di ruang depan.
“Halo, Ikrar?”
“Melati? Iya, ini aku. Maaf kalau aku mengganggumu. Aku tahu kau sedang sibuk dengan tugas pendataan itu tapi aku ingin berbicara denganmu”
“Tidak apa-apa. pekerjaanku hampir selesai. Ada apa?”
Dari seberang Ikrar nampak menarik nafas panjang. Nafasnya terdengar berat, sepertinya hal yang akan dia sampaikan ini terasa berat baginya. “Melati…aku…aku minta maaf”
Tangan Melati yang memegang gagang telepon bergetar dan sesuatu terasa aneh di dadanya. Tiba-tiba rasa takut yang amat sangat menyelimuti gadis itu, membuatnya menggigil meski Ikrar belum mengatakan sepatah kata pun.
“Untuk apa?” Melati berusaha menahan getaran di suaranya.

“Aku masih mencintai wanita itu” suara Ikrar terdengar lemah “aku benar-benar minta maaf…dia masih menjadi bagian penting dalam hidupku dan aku tidak mungkin mengusirnya pergi sementara aku masih menginginkan keberadaannya. Aku pernah membersihkan sepatunya yang kotor dan menemaninya selama berjam-jam dalam diam hanya untuk memastikan dia baik-baik saja. Jadi aku rasa tidak mungkin meninggalkannya dalam keadaan apapun. Dia bukan seorang wanita kuat meski selalu berusaha terlihat tegar dan baik-baik saja di depanku…”
“Cukup” sentak Melati “kau tak perlu menceritakan segala hal tentang wanita itu padaku. Jika kau memang ingin membatalkan pernikahan kita, tidak masalah buatku. Aku baik-baik saja Ikrar, dan akan selalu baik-baik saja. Kau pernah sekali meninggalkan aku karena dia, lantas kenapa aku tidak bisa menerimanya ketika kau meninggalkan aku lagi untuk kedua kalinya juga dengan alasan yang sama?”
“Melati…”
Dari seberang Ikrar dapat mendengar suara Melati yang berusaha menahan isak.
“Aku membuatmu menangis untuk yang kedua kalinya, aku tidak akan pernah cukup pantas untukmu”
Melati tak menjawab, hanya suara isaknya yang terdengar semakin jelas. Dia tidak dapat berpura-pura lagi, menganggap semuanya akan baik-baik saja. Tentu saja tidak akan ada yang baik-baik saja setelah semua ini. Tidak bagi Melati yang hanya selalu mencintai satu nama sejak dulu. Sejak Ikrar datang ke hadapannya.
“Melati, aku tahu mungkin aku terlambat untuk mengatakannya. Tapi seandainya aku bisa menjadi orang lain, bukan menjadi Ikrar, maka aku pasti akan jatuh cinta padamu. Aku pasti akan sangat jatuh cinta padamu jika aku bukan Ikrar…”
“Tapi aku tidak pernah menginginkan hal lain selain dirimu” kata Melati parau “jika kau bukan Ikrar, maka aku tidak akan pernah menangis di hadapanmu.”
“Aku minta maaf”
“Berhentilah minta maaf padaku, aku tak bisa mengubah apapun bukan?” suara Melati mulai terdengar tenang “kau bahkan tidak berusaha sedikit pun, membiarkan aku menangis dan tertawa sendiri, membiarkan aku melambungkan harapan seorang diri. Aku memang tidak akan baik-baik saja, tapi aku akan berusaha untuk selalu baik-baik saja. Jangan khawatir Ikrar. Maaf, aku harus melanjutkan pekerjaanku…”
“Tunggu…aku…”
Klik. Melati menutup telepon dan menghambur ke dalam pelukan Jane untuk menangis sekuat-kuatnya.
***
“Kenapa kau mencintainya?” tanya Melati, nada suaranya terdengar datar saja “kau bahkan rela menyembunyikannya selama bertahun-tahun. Kenapa Ikrar? Apa perempuan itu begitu istimewa hingga orang seperti kau pun tak cukup berani untuk mengatakan kepadanya?”
            Di ujung telepon, terdengar suara Ikrar yang menarik nafas panjang.
            “Kau membuat dia terlihat seperti tokoh jahat dalam hidupku, padahal dia tidak tau apa-apa tentang perasaanmu. Kau harus mengatakan padanya, Ikrar. Jangan biarkan dia menjadi satu-satunya orang yang tidak tau betapa kau sangat mencintainya. Jangan buat dia terlihat bodoh di depanku nanti jika kami bertemu” Melati tertawa kecil.
            “Dia lebih mencintai sahabatku” ucap Ikrar pelan “aku tidak akan merusak semuanya hanya karena aku mencintainya juga. Itu hal yang paling bodoh...”
            “Tapi sahabatmu sudah tidak ada lagi, dia lebih membutuhkanmu sekarang”
            “Melati, sudahlah...”
“Tulislah surat untuknya, Ikrar. Jangan buat pengorbananku sia-sia. Aku sudah berusaha keras melupakan perasaanku padamu hanya agar kau bisa bersamanya. Jika kau tak melakukannya, maka aku sendiri yang akan mengatakan hal ini padanya langsung. Jangan biarkan aku menertawainya di belakangku” Melati memaksa tertawa sebelum akhirnya dia kembali menangis. Dengan segera gagang telepon ditutupnya. Dia tidak akan pernah membiarkan Ikrar mengetahuinya menangis, apalagi hanya karena perempuan itu. Perempuan yang menghentikan langkahnya, menyampaikan jawaban ‘tidak’ dari Tuhan untuknya. Jahat sekali bukan? Dan ironisnya dia sama sekali tidak mengetahui apa yang telah dilakukannya.

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)