Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

#DiklatLatsarmil Chapter 2

By Saturday, December 22, 2012 ,

Hari - 3 (12 Desember 2012)

Judulnya : mendadak gosong

Yap! Hari ini kami seharian latihan PBB di lapangan yang menghadap langsung ke arah sawah (satu-satunya hal menyejukkan di sana) untuk pertunjukan di upacara penutupan nanti. Kami harus menghafal serangkaian gerakan PBB yang sebenarnya cukup melelahkan (cukup apanya, Jenderal??!! Sangat melelahkan!). Belum lagi saat latihan, karena bersamaan dengan gladi bersih upacara pelantikan Caba, kami kami dikagetkan dengan suara tembakan meriam yang berdentum-dentum. Pelatih meneriaki kami 'ndeso!' tiap kali kami berteriak kaget mendengar suara meriam yang serasa mau jatuh di atas kepala. Ya iyalah ndeso. Meriam gitu loh! Kami kan tidak setiap hari dengar suara meriam. Seorang teman tiba-tiba nyeletuk 'gimana sama orang yang tinggal di jalur Gaza ya?'. Kami saja yang yakin meriam itu tidak akan jatuh ke tempat kami tetap saja was-was. Apalagi mereka. Duh :(

Malamnya kembali tidur dengan salonpas dan counterpain.

Nyamuknya buas-buas. Maklum, nyamuk militer. Sebelum tidur harus pasang kelambu kalau tidak ingin dibawa terbang sama nyamuk-nyamuk yang gendut itu.

And they seriously need a good chef to cook their food. Saya heran saja kenapa sayurnya meski berbeda jenis; mau kangkung, kacang panjang, kol, semua rasa dan baunya sama -______-"

Hari - 4 (13 Desember 2012)

Btw, selamat bagi pasangan yang banyak menikah kemarin di tanggal cantik 12-12-12 #eaaa

Jadi hari ini kami harus jalan kaki sekitar 5 km bolak-balik dari Puslatdiksarmil menuju miniatur kapal yang jadi tempat latihan pendaratan helikopter. Dan yang perlu saya tekankan disini, jalan kakinya tidak pakai istirahat!

Latihan bela diri militer ding!

Setelah menghabiskan bergalon-galon air seharian (tak perlu ditanya betapa dehidrasinya kami) paling tidak sekarang saya jadi sedikit tau bagaimana cara memukul jatuh seseorang. Kami diajari beberapa jurus beladiri. Haha...berhati-hatilah orang yang membuat saya kesal! *ketawa membahana *petir menggelegar

Kami menyebut diri dengan nama pasukan Tolah-Toleh gara-gara pelatih PBB kami, Pelatih Rasidi, kalo marah sering bilang tolah-toleh karena yang dimarahi selalu menoleh kesana kemari mencari pembelaan. Haha...

Hari - 5 ( 14 Desember 2012)

Jalan kaki (lagi) dan kali ini rutenya dua kali lipat lebih jauh daripada sebelumnya. Masih tanpa istirahat, jenderal! Tapi hari ini saya memperoleh banyak hal-hal kecil yang bisa saya syukuri. Pertama ketika kami diijinkan melepas helm saat berjalan. Rasanya kepala jadi ringaaaan sekali. Syukur yang pertama saya untuk hal kecil itu.

Kedua ketika ada teman yang menawari untuk membawakan tas ransel saya yang berisi dua botol besar air mineral. Katanya biar bawaannya seimbang. Masing-masing bahu untuk masing-masing ransel. Meski agak heran dengan tawarannya, saya sih senang saja bisa meluruskan punggung dan memberikan tas saya padanya. Syukur kedua saya untuk hal kecil itu.

Yang ketiga ketika kami berpanas-panasan di tepi bendungan menunggu giliran naik perahu karet tiba-tiba datang truk besar yang parkir di tepi bendungan. Maka kami langsung berebutan untuk duduk berteduh di tepi truk. Syukur ketiga saya untuk hal kecil itu :)

Di tepi bendungan kami diajari teknik Survival. Memasak dengan bahan makanan seadanya. Kami hanya dibekali bambu, ikan asin, seliter beras dan mie instan yang harus kami masak tanpa peralatan tambahan. Anehnya saya lebih lahap memakan makanan amburadul hasil masakan koki tidak profesional tim saya daripada makan makanan di barak. Padahal ikan asinnya gosong, mienya masih keras, tapi nasinya enak :p

Setelah itu kami diajari cara mendayung perahu dan cara menyelamatkan diri ketika perahu terbalik. Pulangnya kehujanan. Malamnya batuk. Sekian dan terima kasih.

Malam. Kami kembali mengikuti kegiatan jurit malam. Wajah dan tangan kami dibaluri arang bercampur minyak tanah. Hitam semua. Rasanya perih dan kulit seperti terbakar. Sambil berjalan terseok-seok meringis kepanasan di wajah kami berjalan kembali ke miniatur kapal untuk menjalankan misi menyampaikan pesan. Masing-masing siswa diperintahkan menghafal pesan untuk disampaikan kepada komandan peleton sambil berjalan sendirian melewati pematang sawah dan bangunan tua.

Berhubung jurit malamnya ba'da isya, suasana yang terang benderang karena sisi lain sawah adalah bandara Juanda, jadinya jurit malam kali ini tidak begitu seru. Apalagi tali pocong-pocongan yang ditarik sama pelatih kelihatan (haha..). Saya juga melewati pelatih yang menyamar jadi bapak haji (ngapain coba bapak haji jongkok sembunyi di tengah sawah? -___-") juga melewati rumah tua yang (katanya) tempat seorang calon tentara bunuh diri karena seteres selama pendidikan. Di rumah tua itu malah dilempari mayat-mayatan. Tapi sepanjang jalan pemandangannya kereeeeen. Lewat pematang sawah yang ada kunang-kunangnya dan suasana yang tenang.

Kami tidur pukul 1 malam setelah mencuci baju lebih dulu. Mendadak saya sangat merindukan mesin cuci di rumah.

You Might Also Like

0 komentar