#DiklatLatsarmil Chapter 3

Hari - 6 (15 Desember 2012)

Arrggghhh...hari ini jadwalnya outbond dan tentu saja 'wahana'nya menjulang tinggi. Bagi para akrofobier (tsahhhh...) tentu saja ini adalah cobaan terberat dalam hidup. Dengan sangat terpaksa saya hanya ikut meniti tali dan melewatkan  empat 'wahana' lainnya termasuk flying fox berdiri versi militer. Nyali saya langsung ciut begitu melihat tinggi tempat lepas landasnya. Tidak apa deh tidak dapat nilai. Kali ini saya rela dan ikhlas.

Hari ini dapat satu quote dari teman : Letak pembalut di sepatu menentukan cara berjalan seseorang.
Haha....

Hari - 7 (16 Desember 2012)
Satu hari lagi!!! Yeayyy!!! Benar-benar tak sabar menunggu hari kebebasan setelah tersiksa selama seminggu. Waktu mandi yang singkat, kulit gosong, badan gatal-gatal, berat badan turun drastis (eeh..kalo yang ini tidak apa-apa deh!) dan lain-lain, dan lain-lain...
Hari ini temanya pengenalan karakter. Seperti yang sudah-sudah, mau dites pakai metode apapun, karakter saya tetap melankolis. Jadi kami dibagi kelompok sesuai karakter masing-masing. Awalnya saya kira kami akan berlomba berdasarkan kelompok karakter itu. Bisa saya bayangkan, pasti kelompok sanguin kerjanya tidak akan beres atau koleris yang masing-masing ingin jadi pemimpin atau plegmatis yang lebih suka mengalah. Untungnya tidak. Setelah itu kami diacak lagi dengan masing-masing kelompok diketuai oleh seorang melankolis, koleris, sanguin dan plegmatis. Dan bisa ditebak pula ketua kelompok dengan karakter melankolis yang berhasil memimpin. *uhukkk*

Hari - 8 (17 Desember 2012)
Hari terakhir! (Alhamdulillah....)
Hari terakhir hanya diisi dengan latihan demo PBB dan bela diri untuk upcara penutupan. Siangnya hujan badai, gladi bersih batal, duduk bergerombol sepanjang koridor bercerita dengan teman-teman. Tidak menyangka delapan hari yang berat itu berhasil dilewatkan juga. Malam ini kami akan langsung angkat kaki, benar-benar tidak tahan kalau harus tidur semalam lagi di tempat penuh penderitaan ini. Hari ini juga semua barang titipan dikembalikan, termasuk HP. Rasanya seperti dikasih es campur di tengah padang pasir. Serta merta colokan dipenuhi oleh charger HP dan semua orang menunduk memandangi HP masing-masing.

Alhamdulillah, upacara penutupan berjalan lancar meski sedikit berantakan di sana-sini. Selesai upacara kami langsung berteriak kegirangan. Tidak akan ada lagi yang namanya latihan berat, mandi dan sholat yang diburu-buru, waktu istirahat yang mengenaskan dan makanan yang dari baunya saja menyiksa batin. Mungkin nanti saya akan merindukannya, tapi tidak untuk mengulanginya lagi. Delapan hari yang terberat dalam hidup saya.

Setelah acara malam akrab yang diakhiri dengan lagu 'kemesraan' yang dinyanyikan oleh pelatih Rasidi (beliau pelatih favorit saya juga sama seperti lainnya, btw) kami saling berpamitan karena saya dan 2 orang teman saya akan langsung menuju Bromo.

Kini tidak ada lagi yang namanya pasang kelambu sebelum tidur, pakai salonpas dan counterpain, nyuci baju jam 10 malam dan besoknya memakai baju yang sama dalam kondisi basah sampai nyaris flu, atau memakai baju yang masih bercampur keringat gara-gara tidak sempat dicuci, berjalan ramai-rama di bawah terik matahari...semuanya pasti akan saya rindukan. Tapi sekali lagi, tidak untuk diulangi :D

Here we go....Bromo

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)