Rumah

Ketika kita tertawa untuk hal yang sama dan menangis untuk hal yang sama,
itu adalah rumah bagiku

Ketika kita nonton sepak bola bersama, meski mendukung tim yang berbeda, saling memanas-manasi, saling membanggakan tim yang didukung,

itu adalah rumah bagiku

Ketika kita sama-sama belajar memasak, ini dicampur itu, ah bukan itu yang diaduk, atau itu seharusnya dihaluskan, itu ditumis lebih dulu,
maka itu sudah menjadi rumah bagiku

Ketika kita saling melukiskan mimpi-mimpi kita di atas kanvas yang sama, meski dengan warna dan bentuk yang berbeda,

itu adalah rumah bagiku

Ketika aku harus berpegangan padamu saat kakiku lelah melangkah dan kau selalu memberi genggaman itu tanpa aku minta,

itu adalah rumah bagiku

Ketika kita memandang hijau yang sama, memandang biru yang sama, mengagumi hal yang sama, jatuh cinta pada hal yang sama.

Itu selalu menjadi rumah bagiku

Rumah
Tempat dimana kita meletakkan hati kita
Agar kita selalu kembali
Agar dia menjadi satu-satunya tempat untuk kembali


(Not sure about the date when I wrote this. A long time ago. About home, always about home)

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)