Indah Itu...


Indah itu ketika kau tertawa karena leluconmu sendiri
Sementara aku tidak
Atau saat kau marah-marah, sementara aku tertawa
Karena gaya marahmu sangat lucu
Kita memang penuh dengan paradoks ya?
Apa karena itu kita akhirnya hanya bisa jadi sahabat?
Maksudku, sahabat sehidup semati, sahabat dari pagi sampai pagi lagi


Ketika kau menggendong si bungsu
Tidak sadar dia sudah ngompol
Kau mengira itu air yang bocor dari loteng
Buru-buru si bungsu diberikan padaku dan kau lari-lari ke atas
Sampai manjat ke atap rumah
Mencari bagian yang bocor
Ada-ada saja kau ini
Padahal kau hanya perlu mengganti popok si bungsu

Liburan kamu malah masuk kerja
Aku merajuk, maunya pergi liburan ke pulau
Kamu bingung, mau minta maaf kamu merasa tidak salah,
Mau marah, kamu merasa sedikit bersalah
Aku tertawa dalam hati. Rasain! Makanya jangan terlalu cinta sama kerjaan
Akhirnya kamu tetap masuk kerja, dan aku liburan sendiri sama teman-teman ke pulau. Hihi…

Giliran aku yang marah-marah, kamu pulang telat tidak lapor-lapor
Dari jam delapan sampai jam dua aku nunggu di ruang depan
Telepon tidak diangkat, sms malas aku kirim. Telepon aja tidak diangkat.
Kamu datang, capek, lelah, kusut aku malah marah-marah
Kamu juga marah, langsung pergi lagi entah kemana
Aku nyesal, langsung ambil jaket nyusul kamu
Ternyata kamu hanya pergi ke kios di ujung kompleks -____________-“
Biarin aja deh, aku balik pulang, kamu nginap di kios orang
Paginya aku senyum, kamu senyum
Beres deh masalahnya
Kita baikan lagi

Selalu menyenangkan menjadi istrimu, sayang
Aku mencintaimu kemarin, sekarang, besok, lusa dan sampai kapanpun
Love you just the way you are (basi ya? Hehe)
I love you till the end

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)