Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

Simponi Terakhir di Paris

By Wednesday, January 18, 2012



Pukul 7 pagi, di musim yang masih sama. Orang-orang lalu lalang di sekitarku mengenakan mantel panjang dengan sepatu boot. Sekarang bulan Desember, sedang puncak musim dingin. Angin dinginnya menusuk-nusuk kulit, berhembus dari samudra Atlantik utara. Semua orang berjalan terburu-buru, semua orang tak peduli. Bunga-bunga marigold, mawar, jasmine dan lili yang dijual oleh toko bunga di pinggir jalan tertunduk layu karena tak ada seorang pun yang sudi sebentar saja menengok keindahan mereka. Terlalu dingin untuk berlama-lama di luar. Bahkan sang pemilik florist pun lebih memilih menikmati tegukan kopi yang mengepul-ngepul dari cangkir porselen putih kesayangannya daripada keluar dari batas penghangat toko untuk menyapa setiap orang yang lewat.

Suram, benar benar suram musim dingin kali ini.

Aku berjalan terseok-seok membawa tas ransel besar berisi peralatan untuk praktek kuliahku pagi ini. Sebuah hasil dari kerja keras berminggu-minggu ditambah tidak tidur, lupa makan dan bahkan lupa mandi. Mahasiswa kesenian, itulah aku. Ѐcole Nationale Supѐrieure des Beaux-Arts adalah tempatku kuliah. Jika diterjemahkan secara bebas, kampusku berarti Sekolah Seni Nasional yang hebat. Letaknya di Rue Bonaparte, berdekatan dengan sungai Seine dan di seberang sungai itu terdapat museum Louvre. Kalian tahu bukan? Museum yang sangat terkenal itu. Ah, kalian pasti sudah tahu. Lebih spesifik lagi aku mengambil jurusan seni drama panggung. Dan hasil karyaku yang aku bawa ini adalah kostum kodok besar, hijau menyala menjijikkan dengan potongan-potongan mozaik sebagai sisiknya. Besar dan gagah, terbuat dari karet yang harus aku lelehkan, cetak dan bentuk. Kali ini kami akan tampil di sebuah panti asuhan, menghibur anak-anak yatim piatu karena penanda puncak musim dingin adalah natal yang akan segera datang. Spirit natal. Begitu kata Martin, ketua panitia pertunjukan kali ini. Kami akan mementaskan drama The Princess and the frog, untuk membangkitkan semangat anak-anak itu dalam menyambut natal.


Hanya saja aku tidak merayakan natal. Itu aku tegaskan dengan sehelai kain yang menutupi rambutku. Orang-orang menyebutnya kerudung, tapi bagiku ini adalah lambang ketaatanku pada Tuhan. Telingaku sudah tebal jika mendengar orang menyebut kerudungku ini lambang penindasan. Toh aku tidak pernah merasa tertindas, tapi aku merasa terhormat karena kerudungku ini membuat mereka tak berani macam-macam padaku. Dan kalian tahu, orang-orang seni panggung adalah orang-orang dengan toleransi yang sangat tinggi. Lihat saja teman-temanku, tak ada seorang pun dari mereka yang masalah dengan apapun yang aku kenakan ataupun ‘ritual’ apapun yang aku lakukan.

Aku selalu melewati jalan yang sama selama tiga tahun terakhir ini, Rue Jacob – dalam bahasa Perancis Rue berarti jalan – tapi kali ini aku melihat ada sesuatu yang berbeda di pinggir jalan itu. Di sana, bersandar di salah satu lampu jalanan, nampak seorang pemuda yang tengah mengamen. Dia mengenakan kaca mata hitam. Rambutnya keriting berantakan, kulitnya putih. Tapi sepertinya dia bukan orang Prancis dilihat dari bentuk wajahnya yang tirus dan dagu yang panjang dan menawan. Aku berhenti sejenak mengamatinya dari tempatku berdiri. Dia sedang bermain biola dan ada kotak di depannya tempat orang-orang menaruh uang. Aku pandangi kotak uang itu, baru ada beberapa franc.

Pemuda itu menggesek senar biolanya dengan penuh penghayatan, tidak terganggu oleh orang yang lalu-lalang di depannya maupun kendaraan yang lalu lalang di belakangnya. Dia terus menggesek biola, memainkan karya Mozart yang menggetarkan. Aku seakan tidak percaya dengan pendengaranku, karya Mozart yang sulit itu dia mainkan dengan sangat mudah seperti sedang memainkan lagu Balonku ada lima saja. Dia benar-benar membuatku terpukau. Selangkah demi selagkah aku mendekat padanya.

“Monsieur, bagus sekali permainan biola anda” pujiku setelah aku tiba di depannya. Aku mengeluarkan beberapa helai uang dari saku dan meletakkannya di kotak uang. “Sejak kapan anda mengamen di jalan ini? Aku baru melihat anda pagi ini”

Permainan biolanya terhenti. Dia tersenyum, sebuah senyum yang juga menawan. Dagunya tertarik ke bawah. Tapi dia sama sekali tidak memandangiku. “Baru dua hari ini” jawabnya.

Aku merasa aneh dia sama sekali tidak memandang lawan bicaranya. Pandangannya tetap tertuju pada satu titik di depannya.

“Ah, aku harus pergi. Tapi permainan anda sangat bagus sekali. Permisi”

Aku berlari menyebrangi jalan, berhenti sejenak dan menoleh pada pemuda itu lagi. Dia telah kembali melantunkan karya Mozart, sonata dalam E minor K. 304 pada biolanya dan pandangannya tetap masih tertuju di tempat yang sama.
****

Esoknya aku kembali ke tempat pemuda itu mengamen. Dia masih duduk bersandar di tempat yang sama, merebahkan kepalanya pada biola, memainkan karya lain yang membuat aku terkesiap. Niccolo Paganini. Romanze dalam A minor. Luar biasa pemuda ini. Sepertinya dia bukan pengamen sembarangan. Gerak tangannya menggesek biola pun terlihat terpelajar dan anggun. Aku rasa dia seorang mahasiswa seni musik yang drop out. Bisa saja dia mahasiswa Juilliard yang terdampar disini. Kudengar mahasiswa Juilliard memang hebat-hebat.

Aku berdiri di depannya, menyapanya dengan senyuman. Tapi dia sama sekali tak menyadari keberadaanku dan terus bermain biola.

Aku berdehem.

Gerakan tangannya yang sedang menggesek busur biola pada senarnya terhenti. “Oh, kau gadis yang kemarin itu? Aku kira tadi hanya orang yang lewat saja. Maaf, aku tidak bisa mengenalmu. Kau tidak memakai parfum apapun, biasanya aku mengenal orang lewat parfum yang mereka kenakan”

Aku melongo. Mengenal orang lewat parfum? Dia…?

Ku gerak-gerakkan tanganku di depan wajahnya. Dia sama sekali tidak bereaksi. Dadaku berdebar, luar biasa pemuda ini. Dia seorang tuna netra…

“Maaf” sahutku buru-buru begitu menyadari kalau dia tidak bisa melihat “aku tidak tahu kalau kau…”

“Tidak apa-apa” potongnya, tersenyum “aku telah buta sejak lahir” dia tertawa, sebuah tawa yang membuat dadaku bergetar. Tawanya terdengar sangat ikhlas.

“Kau memainkan Mozart dan Paganini dengan sempurna. Apa kau pernah ikut sekolah musik?”

Dia menggeleng “ayahku. Sejak kecil aku diajarkan bermain biola olehnya. Dia memang pernah sekolah di Juilliard, tapi tidak sampai selesai. Dan ibuku, dia seorang pemain Cello”

Juilliard? Persis dugaanku. Meski yang drop out itu bukan dirinya tapi ayahnya. Dan Cello? Luar biasa. Pemuda ini lahir dari keluarga pemusik. Biola dan cello? Sebuah kombinasi yang bagus sekali.

“Kau pasti mahasiswa seni” tebaknya “karena hanya kau yang mau dua kali menghampiriku. Biasanya mahasiswa kesenian memang lebih peka dengan seni apapun. Apa jurusanmu?”

“Drama panggung” jawabku “Ahya, namaku Khadijah. Siapa namamu?”

“Aku Jean” dia mengulurkan tangannya.

“Maaf, aku tidak bisa bersalaman denganmu” sahutku.

“Kenapa?” dahinya berkerut “tanganku tidak kotor” dia mengusap-usap tangannya ke jaket yang dia kenakan.

Aku tertawa, “bukan begitu. Aku tidak bisa bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahromku.”

“Mahrom? Kau seorang muslim?”

“Hey, kau tahu?” aku terkejut, senang. Seorang pemain biola yang tak dapat melihat tahu apa itu mahrom.

Jean mengangguk “seorang teman apartemenku muslim juga. Namanya Murad. Dia dari Turki dan dia juga tidak mau bersentuhan dengan wanita yang bukan mahromnya. Dia sholat, dia puasa…”

Aku tertawa “iya, begitulah kami. Kau pasti merasa aneh dengan kami bukan?”

Bahu Jean terangkat “tidak juga. Apanya yang aneh dengan orang yang mau menjalankan perintah agamanya?  Murad bilang itu perintah agama, bukan ritual-ritual aneh dari suku terasing” Jean tertawa “sama seperti kami yang setiap akhir pekan ke gereja dan menyanyikan lagu-lagu rohani. Pasti orang di luar Kristen akan merasa aneh, beribadah kok sambil bernyanyi? Tapi itulah kami.”

Jean tampak menyenangkan diajak berbicara. Pikirannya terbuka, dia bebas dan tidak terbelenggu oleh sebuah doktrin apapun. Aku senang dia mau memahami Islam dari sudut pandang yang benar, Apalagi semenjak islamophobia dialami oleh banyak orang Eropa dan Amerika.

“Ah, aku harus ke kampus. Hari ini gladi bersih pentas drama kami” kataku, menyadari kalau aku hampir terlambat.

“Kau akan bermain drama?” tanyanya dengan wajah ceria.

“Tidak. Kali ini aku kebagian tugas sebagai desainer kostum panggung, tapi aku juga harus ikut gladi bersih untuk memastikan semua kostum sudah siap”

“Dimana kalian akan pentas? Bisa aku ikut menonton?”

“Tiga hari lagi di panti asuhan dekat sini. Tentu saja bisa. Aku akan menjemputmu kalau kau mau. Aku pergi dulu ya”

Jean melambai kepadaku kemudian dia kembali memainkan biolanya.

***

Jean sudah berpakaian rapi, dia berdiri menungguku di bawah tiang lampu jalan. Sebuah tongkat kurus dan panjang berwarna putih dipegangnya dengan kukuh. Jika dia berjalan tanpa tongkat, mungkin orang-orang tidak akan sadar kalau dia buta. Wajahnya yang sebagian tertutup oleh kaca mata hitamnya itu sesungguhnya amat tampan. Aku yang lima hari terakhir ini sering menjumpainya menyadari kalau dia punya senyum yang indah, bentuk dahi dan hidung yang sempurna, juga sepasang mata yang menawan dan dagu lancip yang bagus.

“Khadijah?” tanyanya memastikan setelah aku tiba di hadapannya “aku mulai terbiasa mengenalmu dari caramu berjalan” dia tertawa “kau selalu menyeret-nyeret kakimu setiap kali berjalan dan itu sangat berisik”

“Aku yang hampir tidak mengenalimu. Kau terlihat hebat hari ini. Lihatlah, kau rapi sekali”

Jean menggoyangkan tongkat berjalannya “namamu indah sekali” katanya tiba-tiba “menurut Murad, itu nama istri Nabi kalian yang sangat dia cintai. Benarkah itu? Aku hanya ingin memastikan, karena Murad kadang membohongiku”

Aku tersipu “Murad benar, Khadijah itu nama istri Nabi Muhammad yang paling dia cintai”.

“Pasti Khadijah wanita yang sangat cantik”

“Bahkan tercantik di negerinya” sambungku

“Sama sepertimu…”

Untunglah Jean tak dapat melihat rona di wajahku yang semakin menjadi. Dia menggerak-gerakkan tongkatnya di depanku.

“Kenapa kau diam saja? kau marah? Apa aku tidak bisa memujimu cantik?” tanyanya cemas.

“Ah, tidak. Aku tidak marah. Kau berhak memujiku apa saja. tapi…aku tidak secantik yang kau bayangkan”

“Seorang gadis yang mengerti seni pastilah seorang gadis yang cantik” katanya penuh keyakinan.

“Sebaiknya kita segera pergi. Pertunjukannya akan dimulai” aku mengalihkan pembicaraan. Lengan jaket Jean aku pegang agar dia bisa berjalan mengikutiku. Kami menyetop sebuah taksi dan pergi ke panti asuhan untuk menonton pertunjukan teman-temanku.

***

“Indah sekali” bisik Jean setelah layar panggung diturunkan. “Perpaduan musiknya sangat luar biasa. Meski hanya pertunjukan kecil, kalian tidak main-main. Siapa sutradaranya? Dia harus mendapat penghargaan karena karyanya ini. Sayang aku tidak bisa melihat kostum yang kau buat, pasti bagus sekali”

Aku tertawa “berhentilah memujiku, kepalaku pusing kalau dipuji terus oleh seseorang. Ayo, ku antar kau pulang”

Jean juga tertawa.

Aku dan Jean berjalan dengan santai keluar dari halaman Panti. Menurut Jean, apartemennya tidak jauh dari sini jadi kami akan berjalan kaki saja. Apartemenku juga tidak jauh, tadi aku mengajaknya naik taksi karena khawatir pertunjukan akan segera dimulai dan kami terlambat datang. Jalanan masih ramai, orang masih lalu-lalang. Penjual makanan, kafe, dan pengamen masih meramaikan suasana. Padahal udara di luar sangat dingin menusuk.

“Darimana asalmu?” Tanya Jean. Setiap kali dia melangkah, tongkatnya dia ketukkan di atas aspal jalan. Itulah satu-satunya penuntun jalannya.

“Indonesia” jawabku.

Aku mengamati caranya berjalan, caranya meraba sesuatu di depannya, caranya melangkah yang tanpa ragu itu. Dia tidak bisa melihat, tapi jalannya biasa saja seperti orang normal. Kecuali kaca mata dan tongkatnya itu, dia benar-benar tampak sangat normal.

“Negara dengan penduduk muslim terbanyak di dunia bukan?”

Kali ini kupandangi wajah Jean. Isi kepalanya benar-benar tak tertebak. Dia mengetahui hal-hal kecil yang mungkin tidak dipedulikan orang. “Kau benar…err…boleh aku tanya sesuatu?”

“Tentu saja, tanya saja”

“Maaf, eh…tapi kenapa kau…buta?”

“Kemiskinan yang teramat sangat sejak dalam kandungan” jawabnya santai “aku terlahir prematur, orang tuaku sangat miskin. Tidak ada vitamin atau susu yang ibuku minum selama dia mengandung aku. Jadi jangan heran kenapa aku kurus, aku keriting, dan aku tidak bisa melihat. Itu semua tipikal anak-anak yang terlahir miskin di Negara dunia ketiga” dia tertawa. Menertawai dirinya sendiri, bukan untuk melecehkan, tapi untuk menghibur. Ada nada getir di dalam tawanya itu. Aku tahu dia sedang berakting, mementaskan drama hidupnya sendiri dan aku adalah penontonnya.

“Dimana mereka? Orang tuamu maksudku. Mereka pasti seniman yang hebat. Lihat saja kau, tanpa sekolah musik berkelas kau mampu memainkan biola dengan sangat berkelas. Seharusnya mereka sekarang sudah menjadi musisi terkenal”.

“Seharusnya…kalau saja mereka tidak menelantarkan aku di jalanan dan pergi entah kemana. Kami berasal dari Jerman. Ayahku pulang ke Jerman, mengadu nasibnya di sana. Ibuku tidak tahan tinggal denganku, dan aku dibuang begitu saja di pinggir jalan. Sayangnya aku bukan anak bayi lagi yang tidak bisa ingat apa-apa. Aku masih ingat dengan jelas dimana aku dibuang dan bagaimana sikap ibu saat itu.”

“Aku rasa….yah…aku bisa mengerti. Maafkan aku sudah bertanya…” nafasku sesak mendengar jawabannya. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana dia bisa bertahan hidup hingga saat ini tanpa melihat. Aku bahkan nyaris putus asa untuk bertahan hidup di Paris, jauh dari keluarga dan teman-temanku. Hidup sendirian tidak pernah mudah, apalagi jika dirimu adalah golongan minoritas di tempat tinggalmu yang baru.

Seorang anak kecil berlari melintas di depan kami dan hampir menabrakku. Jalan kami terhenti.

“Maaf” seru anak kecil itu. Dia Nampak takut-takut melihat Jean.

“Tidak apa” jawabku. Aku mengacak rambutnya dan menyuruhnya pergi.

“Aku seusia dia saat dibuang oleh ibuku” kata Jean setelah kami kembali berjalan.

Aku terkesima. Dia bahkan bisa menakar usia seseorang tanpa melihatnya.

“Usia anak itu pasti tak lebih dari dua belas tahun” ucapnya.

“Bagaimana kau mengira-ngira usia anak itu?”

“Mudah. Aku bisa mendengar langkah kakinya. Sedikit berat, berarti tubuhnya besar, tapi tidak begitu besar seperti anak usia lima belas tahun. Bunyi langkah kaki mereka lain lagi. Dan tadi aku sempat mendengarnya meminta maaf dengan nada takut-takut, sementara kau menerima maafnya dengan begitu ramah. Itu berarti dia memang seorang anak kecil berwajah polos dan bertubuh agak gendut dan usianya tidak lebih dari dua belas tahun”

“Hebat sekali” pujiku “dia memang seorang anak kecil yang gendut dan menggemaskan. Hmm…coba tebak warna rambutnya kalau kau bisa!” aku tertawa.

“Coklat?” tebaknya dengan wajah serius.

“Hey! Bagaimana kau bisa tahu? Ajarkan caranya padaku!” aku terkejut. Dia benar!

“Kalau yang ini hanya kebetulan” Jean ikut tertawa. Aku meninju bahunya.

***

Hari minggu pagi, salju turun sejak semalam. Membuat jalan-jalan menjadi putih tertutup salju. Dari jendela, aku melihat beberapa anak kecil bermain salju, saling melempar dan berteriak-teriak kegirangan. Aku kenal mereka semua, anak-anak kecil yang tinggal di apartemen yang sama denganku.

Kemudian mataku menangkap sesosok pria yang rasanya aku kenal. Dia melambai-lambai ke arahku dari jalanan. Aku terkesiap. Pria itu adalah Jean tanpa tongkat dan kaca mata hitamnya!

Buru-buru aku mengenakan mantel, kemudian berlari ke bawah.

Jean berjalan tertatih mendekatiku, tanpa tongkat. Tangannya meraba-raba udara kosong.

“Dimana tongkatmu?” tanyaku “kau berjalan kemari sendirian tanpa tongkat? Kau gila?”

Jean nyengir. Dia menjulurkan tangannya dan meraih puncak kepalaku. “Ini kerudungmu?” tanyanya “aku penasaran bagaimana rupa seorang wanita dengan kerudungnya” dia membelai-belai penutup kepalaku itu. “Kau pasti memiliki rambut yang indah karena selalu terlindungi dengan kain kerudung ini. Kau tahu? Polusi udara yang dihasilkan kendaraan juga dapat merusak rambut. Apalagi sinar matahari. Jangan Tanya padaku sudah berapa kerusakan rambut yang dialami banyak wanita gara-gara rambut mereka dibelai-belai oleh sinar itu”

Aku tertawa. “Kau belum jawab pertanyaanku. Bagaimana kau kesini tanpa tongkat itu?”

“Haha…kenapa kau cemas sekali? Aku naik taksi kesini. Untunglah supir taksinya baik, mau mencarikan alamat apartemenmu”

Aku bernafas lega. “Baguslah. Jadi, mau apa kau kesini?”

“Aku punya kejutan untukmu!” Jean membuka penutup tas cangklongnya dan mengeluarkan sebuah biola.
“Aku mempelajarinya seharian kemarin. Semoga kau suka”

Dia mulai menggesekkan busur pada senar biola, pelan, penuh penjiwaan. Pandangan matanya yang memang selalu kosong semakin melengkapi keindahan melodi lagu yang tengah ia mainkan. Aku terpana. Dia tengah memainkan lagu Indonesia Raya! Secara lengkap dan utuh! Tiba-tiba aku jadi sangat rindu dengan negaraku.

“Kau belajar darimana?” seruku tak dapat menahan diri. Aku senang jujur saja. Mendengar lagu kebangsaanku beribu-ribu kilometer dari Negara asalku itu membuat rasa rinduku untuk pulang semakin membuncah. “Seharian? Kau benar-benar hebat!”

Jean menggaruk kepalanya “Aku minta tolong pada teman Murad yang orang Indonesia. Mereka sering bertemu di masjid. Kemarin aku ke masjid untuk belajar lagu ini padanya”

Rasanya aku ingin memeluk Jean.

“Kau mau sarapan denganku?” tawarnya “aku tahu tempat makan enak di dekat stasiun metro milik seorang muslim Pakistan. Kau mau?”

“Baiklah. Tapi biar aku yang mentraktirmu. Anggap saja sebagai bayaran permainan biolamu itu. indah sekali”

Jean tertawa. Dia memasukkan kembali biolanya ke dalam tas dan mengeluarkan sepasang sarung tangan.“Kita jalan kaki saja. kau bisa menuntunku kan? Aku sengaja membawa sarung tangan ini biar kau bisa memegang tanganku”

Aku tersenyum. Sepertinya dia mengartikan ‘tidak bersentuhan’ dariku secara harafiah. “Bukan begitu, Jean” aku mencoba menjelaskan “sepertinya ada yang kurang dari penjelasan Murad padamu. Coba kau tanya lagi padanya kenapa dalam agama kami, pria dan wanita tidak boleh saling bersentuhan. Ini bukan hanya masalahh persentuhan antara kulit pria dan kulit wanita. Lebih dari itu, perintah itu ada agar pria dan wanita bisa saling menghormati”

“Tapi kau memegang lengan jaketku saat kita pergi ke pertunjukan drama kuliahmu beberapa hari yang lalu? Kau ingat?”

“Iya, tapi itu karena aku terburu-buru. Jadi aku tarik saja lenganmu”

“Tapi tadi kau tak menolak saat aku memegang kerudungmu?” Jean masih ngotot.

“Itu karena…ah, yang ini memang salahku. Aku merasa kau sangat ingin tahu bagaimana kerudung itu, jadi kubiarkan saja. aku yakin kau tak bermaksud apapun selain ingin membelai kerudungku. Oke, aku salah. Seharusnya kau tidak melakukan itu.”

Jean menarik nafas panjang “aku pikir, agamamu punya jalan keluar yang lebih baik dalam masalah yang ini”

“Maksudmu?”

“Hubungan antara pria dan wanita. Aku pikir agamamu tidak melarang kau bersahabat dengan seorang pria. Apalagi pria itu berbeda agama denganmu…”

“Memang tidak” potongku “kami tidak dilarang bersahabat dengan siapapun. Mana mungkin aku akan mengajakmu nonton pertunjukan, selalu mengajakmu bicara setiap pagi seperti layaknya seorang sahabat jika agamaku melarangnya?”

“Lantas kenapa semua celah yang dapat menghubungkan seorang pria dan wanita semuanya telah mereka tutupi? Dengan segala peraturan itu”

“Tidak ada celah yang ditutupi, Jean. Justru inilah jalan pembuka untuk membangun relasi di luar agama kami. Kami diciptakan untuk saling kenal-mengenal, dengan terlebih dahulu dibekali pengetahuan untuk menjaga keselamatan diri, menjadi orang yang baik agar dipersahabatkan dengan orang yang baik pula. Itu prinsipnya. Diberi pengetahuan untuk memilih teman yang baik. Kau baik Jean, karena itu aku tidak ragu untuk bersahabat denganmu”

“Tapi aku buta! Aku tidak bisa mengenalmu hanya dengan memandangmu. Aku hanya bisa mengenalmu dari suaramu, dari langkah kakimu, dan dari genggaman tanganmu jika kau mengijinkan. Aku tidak bisa menilaimu dari caramu tersenyum atau dari caramu marah. Aku tidak bisa melihat semua itu. Aku hanya bisa merasakan…” Jean bicara dengan sedikit kencang. Sepertinya dia marah, lebih kepada kebutaannya sehingga tidak dapat melihatku.

Air mataku menetes. Aku tahu ini berat untuknya. Aku meletakkan tanganku di dadanya yang tertutupi jaket tebal itu. “Semoga aku tidak salah.” Ku tarik nafas dalam-dalam “Aku hanya ingin memberi pengertian padamu. Sama sepertimu, kami melihat dengan hati, bukan dengan mata. Di sinilah letak sesungguhnya mata itu” aku menekan tanganku di dadanya agar dia bisa merasakannya “kau tidak perlu tahu seperti apa rupaku, atau seperti apa senyumku. Cukup kau tahu kalau aku adalah seorang muslim, yang ingin menjadi sahabatmu, dan mengagumi permainan biolamu. Kau bisa merasakan keberadaanku dengan setiap sapaan yang aku beri, atau mendengar langkah kakiku. Kau tidak perlu sentuhanku untuk dapat mengenaliku, karena sesuatu yang nyata itu kadang selalu lebih menipu daripada sesuatu yang tidak kasat mata. Aku harap kau mau mengerti”

Aku kemudian berlari meninggalkan Jean sendirian, masih berdiri terpaku di atas salju yang menutupi sepatu bootnya. Dia juga menangis.

***

Aku tidak melihat Jean lagi keesokan harinya di bawah lampu jalan yang sering aku lalui. Juga esok-esok harinya lagi. Aku tidak berusaha mencarinya karena aku terlalu sibuk mengurusi skripsiku dan kuliahku yang akan selesai tahun ini. Aku tenggelam di dalam kesibukanku. Membuat kostum, pentas drama, festival seni dan budaya, skripsi, beberapa mata kuliah lagi, dan ujian. Semua itu menyita waktuku. Aku baru tersadar dan teringat kembali pada Jean setelah aku dinyatakan lulus dalam ujian sidang sepuluh bulan kemudian sejak terakhir kali aku bertemu dengannya.

Aku mencari jean ke apartemennya dan dia ternyata sudah tidak tinggal di sana sejak setengah tahun yang lalu. Murad, temannya yang muslim juga tidak tahu dia pindah kemana dan dia tidak meninggalkan pesan apapun. Aku hanya menitip pesan pada Murad kalau Jean datang berkunjung, tolong katakan kalau aku mencarinya dan aku mungkin akan kembali ke Indonesia akhir tahun ini.

Musim dingin kembali datang.

Kadang di waktu luangku aku berjalan-jalan di jalanan kota Paris berharap menemukan sosok Jean yang tengah menggesek biolanya sambil duduk dan di depannya tergeletak kotak uang yang tidak pernah penuh. Tiba-tiba aku sangat merindukannya. Aku rindu kalimat-kalimat cerdasnya, senyumnya yang menawan, aku bahkan rindu pada rambut keritingnya dan tongkat berjalannya. Aku menyesal kenapa saat itu aku tidak langsung datang padanya dan minta maaf. Atau memberinya penjelasan lain agar dia lebih mengerti. Dia membuatku tidak bisa tidur memikirkan kehidupannya di luar sana.

Salju turun lagi di hari minggu yang sama, seperti saat terakhir kali aku melihatnya berdiri di luar apartemenku tanpa tongkat dan kaca matanya itu. setahun sudah aku tidak melihatnya, dan aku rindu. Jean membuatku terkesan dengan caranya sendiri yang aku sendiri tidak pahami. Dia bahagia dengan apa yang dimilikinya, hanya saja dia selalu punya kemarahan yang dia pendam. Termasuk kemarahan kepada ibunya dan sekarang, aku…

Aku tahu, saat pertama aku melihat Jean, aku memang tertarik mendekat karena melodi yang dia mainkan begitu indah. Tapi setelah aku melihatnya lebih dekat lagi, aku terkesan dengan sosoknya yang terlihat murung tapi bersemangat. Juga senyumnya yang terlihat tulus tapi penuh dendam. Kehidupan Jean penuh dengan paradoks ekstrem yang saling berbenturan, menimbulkan tekanan yang justru membuatnya semakin menarik. Dia membuatku dapat membacanya dengan leluasa. Dia mengijinkan aku untuk membacanya, tapi aku sama sekali tidak pernah mengijinkannya untuk membacaku. Pernah sekali, aku hampir mengijinkannya. Saat dia membelai kerudungku setahun yang lalu, di hari yang sama seperti hari ini.

Tiba-tiba aku seperti menyadari sesuatu. Serta merta aku memakai mantel dan berlarian keluar apartemen kemudian menahan sebuah taksi yang lewat.

Aku tahu Murad bohong, Jean masih tinggal di apartemennya itu dan dia tidak kemana-mana. Dia hanya tak mau menemuiku. Aku baru ingat kalau saat aku berkunjung ke apartemennya untuk mencarinya, aku melihat biola Jean tergeletak di atas kursi. Mereka pasti tidak tahu kalau aku sangat mengenal biola milik Jean. Hanya saja saat itu aku terlalu cemas untuk dapat berpikir jernih. Cemas tak dapat lagi bertemu dengannya.

Pontang panting aku naik ke tangga dan mengetuk apartemen milik Jean. Jean sendiri yang membukanya.

Bukkk

Aku meninju bahu Jean. “Kenapa tak mau bertemu denganku???” bentakku.

Teman-teman Jean bermunculan dari dalam kamar mereka masing-masing. Ada Murad, seorang pemuda Asia dan dua orang pria Prancis. Mereka semua melihat ke arah kami berdua dengan heran.

“Khadijah?” Jean kaget “darimana kau…”

“Aku tahu kau tak akan kemana-mana” air mataku mulai mengalir “tapi kenapa kau tak mau menemuiku lagi? Apa karena kau tersinggung dengan kalimatku saat itu?”

“Aku…tidak…”

“Aku akan pulang ke Indonesia minggu depan, Jean” aku terisak.

“Minggu depan? kenapa cepat…”

“Aku mencarimu kemana-mana setahun ini” potongku

“Khadijah…aku…aku bukan menghindar darimu. Aku hanya sedang merenung dan mencari jawaban dari penjelasanmu saat itu. aku tahu kau mengatakannya padaku dengan penuh ketulusan, dan aku merasa itu bukan jawaban, tapi sebuah kebanggaan betapa terjaganya kehormatanmu dalam Islam. Aku sadar, aku bisa merasakanmu tanpa perlu menyentuhmu. Sejak saat itu, aku berusaha mencari jawaban dari masalahku yang lain.”

Jean tersenyum, matanya berkaca-kaca “Alhamdulillah, aku sudah menemukan jawaban itu. aku sekarang sama sepertimu dan Murad, sama seperti temanku yang orang Indonesia itu, yang mengajari aku lagu Indonesia Raya. Kau ingat?”

Aku terkejut. Amat sangat. Kupandangi Jean lebih lama. Dia memang terlihat berbeda. Ada sesuatu dari dirinya yang membuatku merasa lebih tenang dan nyaman. Subhanallah, maha suci Allah, Jean kini telah menjadi seorang muslim!

***

Aku memandangi salju yang jatuh satu persatu melalui kaca bandara. Penerbanganku ditunda karena cuaca buruk yang tiba-tiba menghampiri langit Paris. Kalau saja aku tahu akan tertunda seperti ini, mungkin aku bisa bercakap-cakap dengan Jean lebih lama di masjid tadi siang. Dia menghabiskan waktu luangnya di masjid untuk belajar mengaji dari seorang ustadz yang juga tuna netra.

Kami bercakap-cakap yang ringan saja. Sesekali Jean menceritakan rasa kagumnya pada kisah-kisah kepahlawanan Islam yang baru dibacanya. Ustadz yang mengajarinya mengaji itu banyak meminjamkan buku-buku huruf Braille miliknya kepada Jean. Selepas Ashar kami berpisah. Aku berpamitan padanya dan untunglah dia tidak melihat aku menangis di depannya.

Jean menolak tawaranku untuk menikah denganku sehari sebelumnya. Itulah kenapa kami berdua tampak kaku dan aku tidak dapat menahan air mataku ketika aku akan meninggalkannya. Betapa aku mencintai pemuda di hadapanku ini apapun kekurangannya.

Dia hanya tidak ingin mengecewakanku. Aku berhak mendapatkan seseorang yang lebih baik dari dirinya. Dia bukannya merasa rendah diri, tidak. Hanya saja, tidak semua yang kita inginkan bisa kita dapatkan. Termasuk keinginannya sendiri. Dia jauh lebih memahami hal ini daripada aku karena itulah yang dia alami sepanjang hidupnya.

“Sebelum semuanya terlambat kita sadari” kata Jean di sore itu. Sore terakhir untuk kami berdua di halaman masjid “aku hanya berusaha menyadarkan diriku sendiri agar tak ada satu pun kenyataan yang dapat menyakitiku. Kau telah banyak membantuku lebih dari yang kau sadari. Itu semua sudah lebih dari cukup untukku…”

“Bagaimana denganku? Apa kau pikir aku ada di sini hanya untuk mendengar hal itu?”

“Sebaiknya begitu” dia berbalik, tongkatnya dia ketuk-ketukkan pada jalan di depannya “aku rasa, gambaranku benar. Murad bilang kau sangat cantik” katanya.

Dan dia pergi begitu saja.

***

Kartu undangan pernikahan dari Indonesia, diberikan oleh Murad tadi pagi. Kartu undangan khusus dengan huruf Braille untukku. Dia masih selalu mengistimewakan aku, selalu.

Pernikahan Khadijah akan dilangsungkan pekan depan, begitu yang tertulis dalam undangan. Nama calon suaminya adalah Abdillah. Indah benar namanya, pasti dia tampan dan gagah, cerdas, juga baik hati. Khadijah pasti akan mendapatkan seorang suami yang terbaik, sama seperti dirinya, seperti hatinya yang indah.

Sayang aku tidak bisa datang ke pernikahannya. Aku hanya menuliskan sebuah surat balasan berisi ucapan selamat untuknya dan permintaan maaf tidak bisa datang kesana.

Assalamu’alaikum…
Barakallahu laka wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khair
Saudariku, semoga pernikahanmu senantiasa diberkahi Allah. Aku berdoa semoga kau bahagia dan selalu bersyukur kepada-Nya. Tak ada yang lebih membuatku bahagia selain melihatmu juga bahagia.
Maafkan aku, aku tidak bisa datang ke pernikahanmu. Kau tahu berapa jarak Prancis dan Indonesia? Kau tahu? Pasti kau tahu kan? Ah, tak usah kau risaukan apa jawabannya jika kau tidak mengetahuinya karena aku pun tidak tahu. Tapi yang pasti, jaraknya sangat jauh. Aku hanya bisa mengirimkan doaku untukmu dari sini.
Salamku untuk suamimu nanti, saudaraku yang akan ku cintai karena-Nya.

Aku tidak pernah merasa sebahagia ini ketika aku tahu, keputusanku dulu tidak salah. Keputusanku untuk hanya mencintaimu dalam kegelapanku.

Dua kalimat terakhir dari surat itu aku hapus kembali. Biarlah Allah yang memberi balasan untukku. Khadijah memang tidak diberikan Allah untukku. Tidak dahulu dan tidak juga sekarang. Aku hanya akan mencintainya dalam kegelapanku.


Selasa, 17 Januari 2012
UPS Soho 9.42 a.m

You Might Also Like

0 komentar