Liverpudlian Sejak 2004

Agak aneh sebenarnya kenapa saya bisa menjadi seorang Liverpudlian. Hanya karena saat itu - tahun 2004 - Liverpool mendatangkan seorang pemain Spanyol dari Real Sociedad bernama Xabi Alonso Lozano Olona. Itu saja. Haha. Serta merta saya menjadi seorang Liverpudlian hingga saat ini meskipun sekarang Xabi sudah pindah ke Real Madrid (belakangan saya juga mulai suka Real Madrid meski kalah terus dari Barcelona. Aneh saja, setiap klub yang saya dukung, pasti prestasinya di liga nasional seret. Contoh : Inter di masa Rafa Benitez).


Karena saya masih newbie, satu-satunya moment yang sangat melekat di benak saya tentang kehebatan Liverpool hanya pada saat final Liga Champion tahun 2005 yang lalu (saya masih kelas 2 SMA). Ketika itu mereka sudah tertinggal 3-0 di babak pertama dari AC Milan, dan saya pun sebenarnya sudah pasrah kalau sampai The Reds kalah - seperti yang saya bilang kalau saya sudah biasa melihat mereka kalah. Tapi siapa sangka gol 'pemecah telur' dari Gerrard mendatangkan dua gol lainnya yang salah satunya dicetak oleh Xabi Alonso!!! Dan akhirnya mereka menang dalam babak adu penalti setelah Sheva gagal menyelesaikan tendangan penaltinya. Aih, rasanya senang sekali. Seperti mendengar pengumuman kalau saya juara kelas lagi. Masuk ke sekolah senyuuummmm terus. Pokoknya saya jadi murah senyum seperti orang yang sedang jatuh cinta dan cintanya diterima *apa seh*.
Sayang, saat Hodgson mengasuh Liverpool mereka nyaris terdegradasi. Saat itu kesetiaan saya benar-benar diuji karena saya jadi sangat malas setiap kali nonton mereka tampil. Tapi saya tidak pernah berpikir untuk mendukung tim Inggris yang lain. Tidak akan pernah! Kenapa? Karena The Beatles juga berasal dari Liverpool. Err...tidak nyambung sih --_______--"

Ahya, saya mendukung The Reds juga karena kebersahajaan tim itu. Entah kenapa saya lebih merasa akrab dengan semua pemain Liverpool meski tidak ada nama-nama spektakuler semacam Ronaldo dan Rooney, dan tidak ada pemain dengan besaran gaji yang tidak masuk di akal di dalamnya. Mereka semua bermain sebagai tim dan tidak ada yang lebih menonjol antara yang satu dengan yang lain. Tim terbaik favorit saya tentu saja saat kemenangan atas AC Milan di Liga Champion tahun 2005 yang lalu. Saat masih ada Xabi Alonso dan pelatihnya masih Rafa Benitez. Saat keepernya masih Jerzy Dudek (tapi Reina juga bagus kok). Saat masih ada Djibril Cisse, Sami Hyypia, Milan Baros, John Arne Riise, Luis Garcia dan sederet nama-nama lain yang sudah saya lupa (bisanyaaa...).

Eh, pertandingan piala FA antara Liverpool dan MU udah mau mulai. Saya mau nonton dulu.
You'll Never Walk Alone!


Rumah, di samping Televisi yang menyala
8.47 PM

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)