Wednesday, January 18, 2012

(Masih) Tentang Pierre Tendean (lagi) - Sebuah Cita-cita-Kosong-Setengah-Mati-Saya

Jika platonic love-nya Gie adalah Rina, maka Pierre Tendean adalah cita-cita-kosong-setengah-mati saya :D


Saya menyukai dia secara pribadi dan prinsip hidupnya, sama dengan Gie. Pierre sudah berencana untuk kembali bertugas di garis depan daripada menjadi seorang ajudan yang hanya duduk di belakang meja. Dia punya jiwa kepahlawanan tapi bukan pahlawan-pahlawan seperti di Tutur Tinular dan Pendekar Pemanah Rajawali ya! (khusus untuk teman-teman saya yang suka nonton dua acara TV itu).

Ini dia beberapa fakta kecil tentang Kapten :)



Nama Pierre diambil dari nama kakeknya, yaitu Pierre Albert yang merupakan ayah dari ibundanya, Maria Elizabeth Cornell, yang merupakan warga negara Perancis. Sedangkan nama Andries merupakan nama kakek dari pihak ayahnya yang berasal dari Minahasa, Sulawesi Utara.

Direktorat Zeni Angkatan Darat (tempat Pierre bertugas) merupakan salah satu badan pelaksana pusat di tingkat TNI Angkatan Darat yang mempunyai kemampuan melaksanakan fungsi teknis militer Zeni. Dengan 9 tugas pokok: Konstruksi, Destruksi, Rintangan, Samaran, Penyeberangan, Penyelidikan, Perkubuan, Penjinakan bahan peledak, serta Nuklir Biologi Kimia pasif (Nubika).

Seorang mantan ajudan Pak Nas di era 90an berkata tentang Pierre: "Pierre menjadi contoh teladan bagi para ajudan generasi berikutnya, ia menjadi contoh seorang ajudan yang berloyalitas tinggi yang siap mengorbankan jiwa raganya untuk pimpinannya"

Waktu Pierre sudah masuk pendidikan ATEKAD, saat cuti liburan pertama kali Pierre pulang ke rumah, perilakunya berubah jadi lebih mandiri lagi. Beliau mencuci seragam dan bajunya sendiri, menyetrika sendiri sampai menyemir sepatunya sendiri yang sebelumnya tidak pernah dilakukan. Hal ini sempat membuat Ibunya kaget, tapi menjadi bertambah bangga terhadap Pierre.

Suatu sore saat SMA, Pierre bermain Volly dengan teman-temannya, karena kesalahpahaman beberapa orang dari kedua tim, terjadi perkelahian. Keributan ini pun mengundang Polisi untuk datang menghentikan perkelahian. Saat melihat polisi datang, beberapa teman Pierre melarikan diri, sementara Pierre yang tidak terlibat perkelahian tetap di tempat. Prinsip Pierre, bermain bersama, susah pun bersama. Akibatnya Pierre pun ikut dibawa ke kantor Polisi. Mendengar Pierre dibawa ke kantor polisi, sang ayah dr. Tendean pun segera menyusul. Saat Pierre melihat sosok ayahnya di kantor Polisi, Pierre segera meminta ayahnya untuk kembali saja ke rumah. Dia tidak mau polisi tau bahwa dia adalah anak dr. Tendean, karena bisa saja begitu polisi mengetahuinya, polisi segera melepaskannya karena dr. Tendean merupakan sosok yg disegani. Pierre tidak mau pulang sementara teman-temannya masih di kantor polisi. Menyanggupi permintaan Pierre, maka dr. Tendean pun kembali ke rumah, sementara Pierre & teman-temannya tetap tinggal di kantor polisi untuk diceramahi polisi agar tidak mengulangi lagi perkelahian lalu di lepaskan untuk kembali ke rumah masing-masing.

Suatu hari saat Pierre masih menjadi ajudan Pak Nas, terdapat segerombolan pemuda yang mengendarai motor dengan kecepatan tinggi untuk balapan di depan rumah Pak Nas yang menyebabkan kebisingan. Pierre kemudian keluar rumah untuk menangkap salah satu dari pemuda tersebut yg ternyata putera seorang jenderal juga. Tapi Pierre tidak takut. Dia tetap menyuruh pemuda itu membuat surat pernyataan untuk tidak mengulangi perbuatannya, dan memanggil ayah pemuda tersebut untuk menjemput puteranya, sehingga sang jenderal tau kelakuan puteranya yang tidak baik. (Info dari mantan ajudan Pak Nas)

Rukmini Chaimin adalah seorang wanita yang ramah, low profile, sederhana, dan tenang. Sifat-sifatnya inilah yang membuat dirinya menjadi pelabuhan terakhir dari hati sang Kapten.

Seorang keluarga Pierre berkata tentang Pierre: "Pierre merupakan seorang yang ramah, low profile, sederhana dan tenang". Karena itulah tak heran jika ia jatuh cinta pada Rukmini, karena mereka memiliki sifat yang sama.

(Dari berbagai grup-grup FB Kapten (Anumerta) Pierre Andries Tendean)

0 komentar:

Post a Comment