3G : Gara-gara Gayus


Ini hanya dugaan saya saja. Mungkin gara-gara Gayus bisa buat Paspor kaya mau buat telur dadar - alias sangat gampang - makanya sekarang pembuatan paspor benar-benar diperketat.

Pertama saya masuk ke Kantor Imigrasi Kls. I Palu dan menghampiri loket 1 (pengajuan paspor WNI), yang lebih dulu diminta adalah KTP saya. Terus KTP saya itu dibaca-baca, dibolak-balik sampai akhirnya petugas imigrasi itu melihat foto di KTP saya. Wajahnya mengerinyit, melihat sekali lagi foto itu. Setelah jeda waktu melihat foto di KTP yang menurut saya cukup memakan waktu yang tidak sebentar, petugas imigrasi di loket pertama itu pun memandangi saya. Dengan nada (agak galak) dia bertanya foto itu diambil tahun berapa.

Saya, melongo dong.


Petugas imigrasi bilang lagi, 'Fotonya terlalu muda, tidak sesuai dengan umur. Coba lihat foto orang lain yang lahir tahun 1989 (sambil kasih liat ke saya foto KTP milik orang lain), lihat wajahnya. Sesuai dengan umur kan? Tapi foto mbak yang di KTP ini benar-benar tidak menunjukkan kalau mbak itu kelahiran tahun 1988. Saya tidak mau ambil resiko. Mending Mbak dipersulit di sini saat buat paspor daripada nantinya dipersulit saat pemeriksaan imigrasi nanti. Sebaiknya Mbak perbaiki KTP-nya dulu.'

Saya speechless, antara senang dibilang baby face (abaikan) dan gusar karena tidak bisa buat paspor. Masa saya harus balik ke Luwuk lagi cuma buat nempelin foto baru di KTP??? Kan tidak lucu. Lagian foto di KTP itu dibuat tahun kemarin, 2011 untuk ID Card di kantor. Mungkin saja mesin cetak kantor catatan sipil lagi kehabisan tinta makanya foto di KTP saya jadi seperti itu.

Dan saya tetap ngotot mau buat paspor.

Eh, KTP saya malah diedarkan ibu petugas ke teman di sebelahnya. Dan sekali lagi foto di KTP saya diamati lebih lama. Terus petugas itu bilang 'iya, fotonya tidak sesuai usia'.

'Gini aja mbak. Punya pas foto yang lain? Itu aja yang dibawa kesini' tawar petugasnya memberi solusi. 'Nanti sampai di Luwuk KTP-nya tolong diperbaiki'

Lah...daritadi kek. Saya ngangguk dan langsung pergi ke studio foto untuk buat pas foto langsung jadi. Cuma menunggu tidak sampai sejam, jadilah pas foto saya itu (menunggu sambil berharap orang yang sama-sama menunggu di studio foto itu bukan corps Zeni *pletak)

Balik lagi ke kantor Imigrasi, saya diberi sebuah map dan formulir yang harus diisi. Sekalian menyerahkan berkas-berkas persyaratan pembuatan paspor (foto kopi KTP, KK, Surat rekomendasi atasan, Ijazah dan Akta Kelahiran. Diperiksa satu persatu kemudian dicap tanda berkas lulus pemeriksaan. Aman. Saya bukan teroris atau koruptor yang hendak kabur ke LN). Setelah itu berkas dan formulir dimasukkan dalam map dan diserahkan kembali ke petugas imigrasi.

Kemudian menunggu nomor antrian dipanggil di loket dua, dikasih kode dan diminta menunggu lagi untuk masuk wawancara, foto dan pengambilan sidik jari. Tak berapa lama nomor antrian saya dipanggil untuk masuk ke ruang wawancara. Berasa kaya mau melamar kerja jadi sipir penjara karena seragam petugas imigrasinya agak-agak semi militer begitu.

Vabyo
Petugas imigrasi yang wawancara wajahnya seperti Vabyo, pengarang buku Kedai 1001 Mimpi itu (haha). Si Vabyo imigrasi ini bertanya beberapa hal. Pertanyaan wawancara sepertinya standar. Mau kemana? Dengan siapa? Semalam berbuat apaaaa (eh, itu lagu Kangen Band ding). Yah, hanya ditanya seputar rencana ngapain ke Luar Negeri (liburan, jawab saya. Petugas ngangguk-ngangguk, mungkin salah duga dikira saya mau jadi TKI), kemana saja (Malaysia, Singapura sama Thailand), dengan siapa (teman-teman kantor, rame-rame), kerjanya di Pegadaian ya? (Iya, Pegadaian di Luwuk).

Setelah itu, diambil foto retina mata. Saya tidak ngeh kalau foto retina mata juga sekalian buat foto paspor, makanya pas diambil foto saya tidak sempat senyum manis. Hwaaa.... jadilah foto saya di paspor dengan wajah melongo, lugu dan polos. Semoga tetap lolos di bagian pemeriksaan paspor nanti.

Kemudian pengambilan sidik jari. Saran saya buat yang akhwat, minta petugas wanita yang wawancara atau minimal buat ambil sidik jari saja. Karena pengambilan sidik jari sedikit melibatkan kontak fisik berupa tuntunan petugas kepada kita untuk mengambil sidik jari (seperti pengambilan sidik jari buat SIM begitu deh. Dugaan saya saja, karena sampai sekarang saya belum buat SIM. Hehe...). Bagian ini yang agak lama. Berkali-kali sidik jari saya diambil, berulang-ulang. Sampai bosan saya mendengar si petugas Vabyo ini menyebut 'angkat jarinya', 'tekan jarinya', 'angkat', dan 'tekan' berulang-ulang.

Itu saja. Setelah itu saya diminta tanda tangan dan bilang kalau paspor saya akan diproses. Silahkan ambil 4 hari lagi. Horeee...

Keluar dari ruang wawancara, saya kembali ke loket buat bayar biaya paspor. 400 ribu untuk paspor 48 halaman dan 200 ribu untuk paspor 24 halaman. Saya buat yang 48 halaman. Setelah itu saya diberi bukti pembayaran buat mengambil paspor 4 hari kemudian. Bisa diwakilkan. Dan selesai.

Jadi kalau ada yang bilang buat paspor itu ribet, mahal dan lama, itu sama sekali tidak benar. Asal petugasnya profesional seperti di kantor Imigrasi Palu itu. Dan jangan sekali-kali pakai calo, karena merekalah yang membuat harga pembuatan paspor jadi selangit. Alhamdulillah, saat itu kantor Imigrasi tidak terlalu ramai. Segalanya berjalan santai dan nyaman. Yang penting semua persyaratan untuk buat paspor telah lengkap dan Anda tidak sedang berada dalam DPO KPK, plus foto di KTP sesuai usia, maka paspor Anda akan jadi dengan mudah. Salut buat reformasi birokrasi di kantor Imigrasi Palu ;)

Rumah, setelah seharian malas-malasan
Jumat, 23 Maret 2012
7.47 PM

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)