Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

Maryam

By Monday, March 26, 2012


Usianya 5 tahun ketika pertama kali aku mengenalnya. Aku menjadi sahabat abangnya saat aku duduk di bangku kelas 5 SD – saat itu usiaku sepuluh tahun – dan aku sering datang bermain ke rumahnya. Abangnya amat menyayangi adik satu-satunya ini sehingga dia selalu dibawa-bawa kemanapun kami bermain. Main sepak bola di lapangan ujung kampung – dia dibonceng naik sepeda oleh abangnya, main layangan, main kelereng, main PS, main di sungai, menyusun puzzle di rumahku, pokoknya kemanapun kami pergi dia selalu ikut, duduk manis di boncengan sepeda abangnya.

Beranjak kuliah, aku masih tetap bersahabat dengan abangnya, masih sering datang ke rumahnya tapi tak berani lagi menggodanya seperti dulu-dulu. Tak berani lagi menggelitiki pinggangnya seperti saat dia masih suka ngompol di sofa ketika menemani kami belajar. Aku bahkan kini tak berani lagi memandangi raut wajahnya terang-terangan. Dia selalu menunduk setiap kali lewat di depan kami, seolah-olah khawatir tali sepatunya akan lepas setiap saat. Usianya sudah 15 tahun, kelas 1 SMA. Dia sudah menjadi gadis dewasa yang tak lagi terlalu sering ikut berkumpul bersama aku dan abangnya. Satu lagi, dia kini telah berjilbab. Jilbab lebar yang membuatku sedikit gentar menghadapinya.


Namanya Maryam – tak kurang dari nama salah seorang wanita yang paling utama di dunia. Bersanding dengan nama Khadijah, Fatimah dan Asiyah. Dia tetap masih pemalu dan kekanak-kanakan seperti dulu. Hanya kini selera humornya sedikit berkurang. Tak lagi tertawa dengan lelucon-lelucon kami berdua. Meski kini dia berubah menjadi sedikit serius, tapi dia tetap si kecil Maryam yang masih suka merajuk minta dibelikan es krim, jadi lebih sering menceramahi kami yang kadang masih seenaknya, dan pernah bertengkar hebat dengan abangnya hanya karena abangnya membawa pacarnya ke rumah dan ikut nongkrong bersama kami. Maryam tidak menyukai pacaran. Termasuk dia pernah mogok bicara padaku selama sebulan hanya karena dia memergoki aku sedang gandengan tangan dengan pacarku di toko buku. Entah kenapa sejak saat itu aku pun jadi enggan untuk berpacaran dan lebih memilih tidak pacaran daripada didiamkan begitu saja oleh si kecil Maryam.

“Kak, nih!” Maryam menyodorkan sebuah buku padaku “baca ya!” katanya lebih bernada memerintah dan mengancam. Aku mengerinyit, membaca judul buku bersampul putih yang diberikan Maryam. Sifat Shalat Rasulullah.

“Kalau buku kaya gini aku udah punya” kataku menolak. Skripsiku masih memanggil-manggil untuk diselesaikan karena targetku bulan depan aku sudah harus selesai dari belenggu skripsi sialan itu. “Aku sudah punya kunci ibadah di rumah. Sudah khatam dari kelas 5 SD”

Maryam cemberut – seperti biasa. “Yang ini beda kak! Biar kita ibadah wajibnya lebih bagus, biar sama dengan sahalatnya Rasulullah”

“Lah, apa bedanya dengan kunci ibadah sih? Sama-sama tentang sholat juga kan?” elakku.

“Pokoknya baca!” dia memberikan buku itu kepadaku dan langsung berlari masuk ke kamarnya. Buku kesekian yang dia paksa agar aku membacanya.

***

“Jadi Alfi mau lanjut ke Prancis ya?” tanya Tante Ira, ibu dari Maryam dan Yusuf – abang Maryam. Saat itu dua hari setelah wisuda. Aku datang ke rumah mereka untuk pamit karena akan segera ke Prancis melanjutkan studi. Maryam terlihat agak pucat dan lesu hari itu. Dia hanya duduk diam bersandar di sofa, di samping Yusuf sambil memandang kosong televisi di depannya.

“Iya tante. Kebetulan ada adik papa yang tinggal di Prancis” jawabku sambil meraih gelas berisi minuman yang dihidangkan tante Ira.

“Yusuf tuh, mau langsung cari kerja trus nikah” tante Ira melirik anak sulungnya.

“Lah, kan Umi sendiri yang bilang gitu ke Yusuf. Nikahnya disegerakan kalau udah siap. Jadi Yusuf nyari kerja dulu, trus nikah sesuai saran umi” kilah Yusuf demi melihat lirikan mataku yang sedang menertawainya habis-habisan.

Tante Ira tertawa pelan. Wanita berkerudung itu memang amat lembut dan selama sebelas tahun aku menjadi sahabat Yusuf, tak pernah sekalipun aku melihatnya tertawa terbahak-bahak. Keluarga mereka sangat religius. Karena itu aku heran kenapa Yusuf sama sekali tak mewarisi sifat religius kedua orang tuanya dan adiknya, Maryam.

“Kalau Maryam gimana tante?” tanyaku sambil melirik gadis itu. Maryam cuek dan pura-pura tak mendengar. “Mau lanjut kuliah apa langsung nikah?”

Mata Maryam yang kecil melirik tajam kepadaku. Aku tertawa, senang melihat dia mendelik seperti itu.

“Terserah Maryam sih. Tapi sebaiknya Maryam kuliah saja dulu, biar pinter, biar bisa jadi ibu yang hebat buat anak-anaknya nanti”

“Setuju Tante” sahutku sambil menghabiskan minuman. Maryam berdiri dari sofa dan meninggalkan kami diiringi oleh tawa aku dan Yusuf. Tante Ira hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah kami.

***

“Semester berapa sekarang?” tanyaku pada Maryam. Kunjungan pertamaku ke rumah mereka lagi setelah dua tahun. Dia sudah lebih dewasa sekarang. Bayang kekanak-kanakannya semakin memudar.

“Baru semester awal kak” jawabnya pelan. Dia menunduk.

Yusuf nyengir di antara kami berdua. Setelah dua tahun ternyata dia belum juga berhasil mendapatkan seorang istri. Kini dia telah bekerja sambil meneruskan kuliahnya. Hidup Yusuf terlihat jauh lebih terarah sekarang.

“Biasa aja deh ngobrolnya” sahut Yusuf “kamu gimana Al? Sudah ketemu calon istri tidak di sana? Aku dengar cewek-cewek Paris itu cantik-cantik”

Aku menggeleng dan tersenyum “aku tidak punya waktu untuk itu, Suf” jawabku singkat.

“Maryam nih, adik kita ini, sepertinya akan mendahului kedua abangnya. Minggu kemarin dia sudah ta’aruf sama Ustadz muda yang pengusaha itu. Bisa-bisa dia nikah duluan daripada kita, Al. makanya kita harus cepat-cepat cari calon istri”

Wajah Yusuf disambit Maryam dengan bantal.

“Aku kan sudah bilang kalau aku belum mau nikah!” kata Maryam ketus. Dia kemudian meninggalkan kami berdua. Aku melongo, Yusuf tertawa-tawa.

“Anak itu belakangan ini jadi mudah marah” lapor Yusuf setelah Maryam berlalu. “kau tahu? Dia sudah menolak 2 orang yang mau melamarnya! Bayangkan! Dua orang yang kualitasnya beda-beda tipis sama Sandiaga Uno.”

“Mungkin dia masih ingin kuliah, Suf. Usianya juga baru delapan belas kan? Kenapa harus buru-buru?”

“Tapi kan dia bisa tetap kuliah setelah menikah. Lebih bagus lagi kalau dia nikah, biar ada yang jagain kalau kemana-mana. Kampusnya itu jauh dari rumah, aku tidak bisa ngantar dia setiap hari ke kampus. Umi dan Abi apalagi. Kadang dia pulangnya malam, kadang malah tidak pulang. Kemalaman dan terpaksa nginap di kost temannya yang dekat kampus. Umi khawatir, makanya nama Maryam masuk bursa ta’aruf sejak tiga bulan yang lalu. Haha…”

Aku geleng-geleng kepala. “Kenapa dia tidak pindah ke kampus yang lebih dekat rumah saja?”

“Mana mau dia. Maryam tuh standarnya tinggi banget. Maunya di kampus terbaik, jurusan terbaik. Mana mau dia di kampus abal-abal yang dekat rumah.”

Aku hanya bisa mengangkat bahu, tak tahu harus memberi saran apa lagi. Mungkin solusi tante Ira benar, Maryam sebaiknya menikah. Tidak masalah dia menikah dan tetap kuliah. Tapi mungkin Maryam punya pilihannya sendiri. Aku pun sebenarnya tidak mengenal Maryam lebih dalam. Jadi aku diam saja.

***

Hari pernikahan Yusuf akhirnya datang juga. Butuh waktu enam tahun baginya setelah dia mengikrarkan diri untuk menikah untuk dapat berjumpa dengan seorang wanita yang sekarang tengah berdiri anggun di sampingnya. Usia kami kini 27 tahun. Aku sedikit cemas jika mengingat Yusuf yang butuh waktu 6 tahun untuk menikah sementara aku sama sekali belum terpikir tentang pernikahan. Selepas kuliah aku langsung ditawari bekerja di ujung timur Indonesia, menghabiskan tahun-tahunku di sana dengan pekerjaan, travelling dan fotografi. Saat menerima undangan pernikahan yang dikirim Yusuf ke tempat aku kerja, aku terhenyak. Usia kami sudah tidak muda lagi.

Maryam telah lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Dia belum juga menikah. Entah sudah berapa orang yang dia tolak selama 4 tahun terakhir. Yusuf masih sering mengirimiku email atau meneleponku, menggerutu soal Maryam yang tetap keras kepala, entah apa yang ditunggu oleh gadis itu. Jawabanku sigkat saja. Mungkin dia masih menunggu ijazah sarjana ada digenggamannya.

Aku dan Maryam berpapasan di koridor yang menuju kamar Yusuf. Aku sengaja datang beberapa hari sebelum pernikahan kakaknya. Nyaris aku tak mengenalinya karena kini dia jadi lebih tinggi daripada terakhir yang aku lihat. Seingatku dulu dia hanya setinggi daguku. Tapi kini dia hampir setinggi hidungku. Kami nyaris bertabrakan di koridor karena dia berjalan cepat-cepat membawa bungkusan di kedua tangannya.

“Maryam” sapaku sedikit terkejut “sini, biar aku bantu” aku meraih salah satu bungkusan di tangannya.

“Oh, kakak. Kapan datang?” tanya Maryam sambil berjalan menuju bagian belakang rumah. Aku ikut berjalan di sampingnya.

“Barusan. Landing jam 9 tadi. Yusuf mana? Akhirnya anak itu menikah juga”

Maryam tersenyum “Kak Yusuf lagi fitting baju sama umi sekalian belanja. Mungkin nanti sore baru pulang” jawabnya. “Kakak kapan nyusul Kak Yusuf?”

Aku tertawa “secepatnya” jawabku asal. “Kalau sudah ketemu yang pas – seperti potongan puzzle terakhir yang akan menyempurnakan puzzle yang sedang aku susun – maka aku akan langsung menikahinya” jawabanku yang kedua sedikit lebih serius. Pernikahan Yusuf memang sedikit mengubah pandangan hidupku. Sekilas aku melihat raut wajah Maryam berubah.

“Eh, aku punya buku yang bagus kak” Maryam mengalihkan pembicaraan.

“Hmm…?”

“Kakak mau pinjam? Kebetulan aku sudah selesai baca” tawarnya bersemangat.

Aku menggeleng “nanti saja. Sekarang aku bantu-bantu di sini dulu.”

Wajah Maryam berubah kecewa.

“Eh, iya. Nanti aku pinjam ya” kataku buru-buru.

***

“Maryam dapat pekerjaan” kata Yusuf di telepon. Setahun setelah pernikahannya. “Adikku itu…aku benar-benar mencemaskannya. Sekarang aku paham kenapa umi ingin segera menikahkan Maryam. Menjaga seorang anak gadis memang tidak mudah. Setiap malam aku cemas kalau Maryam terlambat pulang, atau dia pergi entah kemana. Sekarang aku yang jadi lebih over protektif daripada Umi. Setiap jam aku meneleponnya. Dan sekarang saat dia sudah seharusnya menikah, dia malah mendapat pekerjaan di tempat yang jauh dan bersikeras mau pergi”

Kudengar tarikan nafas Yusuf yang berat. Sepertinya Maryam benar-benar menyita perhatiannya.

“Dan dia masih menolak untuk menikah. Semua alasan basi dia kemukakan. Kami kehabisan ide untuk membujuknya agar segera menikah.”

Aku tertawa di seberang “dia baru 22 tahun, Suf” kataku “para gadis sekarang tidak menikah di usia itu. setidaknya begitu yang aku baca di internet. Mereka baru akan memikirkan pernikahan di usia 25 tahun”

“Umi menikah di usia 19 tahun” potong Yusuf “usia tidak bisa dijadikan tameng, Al”

“Iya..iya… aku tahu. Tapi mungkin Maryam masih ingin bersenang-senang dengan kesendiriannya…”

“Tidak juga” potong Yusuf lagi “aku tahu dia tidak benar-benar senang menjadi sendiri. Aku tahu dia juga menginginkan pernikahan. Tapi aku masih tidak paham apa yang membuatnya masih terus menunda-nunda keinginannya itu”

“Sebaiknya kau tanyakan langsung pada Maryam. Hanya dia yang tahu alasannya kenapa” saranku “dan…ahya… aku rasa aku akan menikah juga”.

Yusuf tersedak di ujung telepon. “Apa??? Kapan? Siapa gadis itu? Kenapa tidak cerita kepadaku?” tanya Yusuf bersemangat. Dia tertawa.

Aku juga tertawa. “Ini baru mau aku cerita. Aku bertemu dengan gadis ini dua bulan lalu di lapangan. Ternyata dia salah seorang staf lapanganku, baru saja diterima. Bayangkan, aku tak menyadari keberadaannya… gadis semenarik itu… halo? Halo? Yusuf? Kau tak mau dengar ceritaku?”

Genggaman telepon dari tangan Yusuf terlepas. Rupanya sejak tadi speaker telepon dia aktifkan dan Maryam tanpa sengaja mendengar semua pembicaraan kami.

“Maryam terjatuh” kata Yusuf buru-buru. Dia langsung mematikan telepon.

***

Aku tidak pernah tahu di mana potongan puzzle terakhir milikku berada atau ada di tangan siapa. Saat mengucapkan kalimat itu setahun yang lalu aku tidak begitu peduli pada akibatnya. Bagiku puzzle milikku akan selesai dengan sendirinya, tanpa perlu campur tangan dariku. Menurutku semuanya akan terjadi begitu saja, seperti air sungai yang pasti mengalir ke hilir atau matahari yang pasti terbenam di timur. Aku lupa kalau air sungai pun memerlukan upaya untuk mencapai lautan. Bumi pun memerlukan rotasi untuk diselimuti malam. Semua itu memerlukan upaya. Puzzleku tidak akan selesai jika aku hanya memandanginya saja. Seharusnya aku sudah mencari potongan puzzle terakhirku sejak dulu atau paling tidak menyadari kalau potongan puzzle terakhirku telah berada dalam genggaman tangan seseorang. Dia telah menggenggam potongan puzzle terakhirku, sejak dahulu dengan sangat erat.

Maryam masih berusia 5 tahun ketika pertama kali aku melihatnya. Rambutnya masih dikuncir satu di atas kepala persis tanduk unicorn. Tubuhnya yang gempal masih suka berlari-lari di sela-sela kaki kami saat kami sedang belajar di rumahnya. Kadang aku menggendongnya untuk meraih buah kersen, atau memboncengnya di sepeda jika Yusuf beralasan sedang sakit kaki dan tak mampu memboncengnya. Dia sangat suka menyusun puzzle bersamaku. Tapi tak pernah terlintas sedikit pun dia yang menggenggam potongan puzzle terakhir milikku.

“Aku tidak menemukan potongan puzzle kakak begitu saja” katanya “aku mencari, bukan mendapatkan. Dan setelah aku dapat, aku menggenggamnya dengan erat, tak akan aku berikan kepada siapapun. Kakak tak menyadari kalau selama ini puzzle itulah yang membuat aku menunda segalanya. Aku tak mau membuang sesuatu yang dengan susah payah aku dapatkan meski demi apapun. Bahkan demi kebahagiaanku sendiri. Aku berharap aku tidak menggenggam puzzle yang salah. Tapi hanya kakak yang bisa tahu apa puzzle ini benar atau salah”

Aku tak dapat membendungnya. Air mata itu mengalir begitu saja, seperti air sungai yang berjuang menuju hilir. Ingin sekali aku mengangguk, mengiyakan kalau dia telah menemukan potongan puzzle yang tepat, milikku. Tapi semuanya sudah terlambat. Ada seorang gadis lain yang telah menemukannya lebih dulu – potongan puzzle yang lain. Aku baru saja melamarnya satu jam sebelum Maryam mengatakan semua hal itu. Satu jam yang menghentakkan segalanya.

“Aku…” lidahku kelu. Aku sama sekali tak sanggup melanjutkan kalimat yang akan aku sampaikan padanya. “Aku rasa… itu puzzle yang salah” kataku pada akhirnya.

Maryam terdiam di seberang telepon, selama beberapa detik. Kemudian dia menarik nafas panjang dan – mungkin – tersenyum. “Yah…mungkin ini memang puzzle yang salah. Maafkan Maryam kak, telah membebani pikiran kakak”

“Tidak” kataku buru-buru “kau sama sekali tidak membebaniku.” Setelah itu kami berdua terdiam lagi.

“Ah, maaf, aku sedang buru-buru. Ada rapat mendadak sore ini. Maaf Maryam” sahutku setelah terdiam beberapa saat.

“Iya, baiklah kak. Assalamu’alaikum…” suara Maryam parau.

“Wa’alaikumsalam”. Aku menutup telepon.

Aku tahu, jika aku tak segera menutup telepon, mungkin aku akan mendengar tangisan Maryam. Tangisan yang berbeda dengan tangisan yang sering aku dengar berbelas-belas tahun yang lalu.

Pandanganku jatuh pada kalender di atas meja dan menyesal. Tanggal hari ini berwarna merah mencolok. Maryam tahu aku telah berbohong.

UPS Soho
10.52 AM
Pagi yang mendung

You Might Also Like

0 komentar