Welcome to our website !

Matryoshka

“I write to give myself strength. I write to be the characters that I am not. I write to explore all the things I'm afraid of.” ― Joss Whedon

Koh Acong

By Tuesday, March 13, 2012



Dari balik kaca jendela toko yang berdebu, aku bisa melihat bapak itu. rambutnya yang kelabu, tubuhnya yang sedikit bungkuk, keriput yang saling tumpang tindih di wajahnya, juga tumpukan segala rupa macam barang yang dijual – khas toko orang tionghoa yang ada di kotaku. Tubuhnya terkepung oleh etalase toko berkaca kusam yang isinya obat-obatan dari cina dengan segala bentuk dan rupa – tapi lebih banyak bentuk pilnya. Juga lemari-lemari kayu tinggi dengan banyak rak tempat memajang segala sesuatu yang sudah tua, sama persis dengan si pemilik toko. Kau akan takjub jika melihat barang-barang yang dijualnya, sama sekali tidak berkaitan satu sama lain. Obat-obatan cina, bola tenis, bola pingpong, paku, palu, roda sepeda yang digantung, macam-macam ukuran dan jenis pipa dan selang, kaleng-kaleng cat, bahkan jika aku tidak salah lihat, ada tumpukan karung beras di bagian belakang toko. Sebuah Toko bangunan yang merangkap toko kelontong.

Aku tidak segera masuk ke dalam toko itu. Kubiarkan diriku larut dalam segala hal kuno yang tampak pada toko ini. Aku membayangkan suasana toko dua puluh tahun yang lalu, ketika toko ini masih berjaya dan menjadi satu-satunya toko yang didatangi penduduk kota – kota kecil saja. Nama tokonya masih mengkilap gagah, tertulis dengan rapi di atas sebuah papan yang digantung di depan pintu masuk toko. Toko Matahari Terbit, segala rupa ada di sini. Dulu, masa kanak-kanakku aku habiskan di sekitar toko ini, memikul barang belanjaan ibu-ibu yang tinggal di pulau seberang hingga sampai ke pelabuhan, bermain bersama teman-teman lain kala pengunjung toko sepi dan tak ada barang belanjaan yang bisa kami angkut, juga kadang bertukar cerita dengan Koh Acong, si pemilik toko, si bapak tua setengah bungkuk di dalam sana. Tanpa aku sadari, air mataku meleleh. Betapa aku merindukan masa kanak-kanakku dua puluh tahun yang silam itu, juga pria yang ada di dalam sana.


Sepulang sekolah, aku sudah mengenakan baju ‘dinas’ dan menjadi kuli di depan toko Koh Acong. Bersama beberapa anak kecil lain kami ikut bantu-bantu di toko orang paling kaya di kota kami ini. Wajah Koh Acong bulat dan jenaka, sangat ramah tapi kadang galak. Bahasa derahnya lancar sehingga banyak pembeli dari daerah yang tidak segan berbelanja di tokonya. Biasanya Koh Acong menghadiahi kami permen jika tokonya ramai pembeli. Jadi kalau ada rumor yang bilang orang tioghoa itu pelit, berarti rumor itu salah. Koh Acong sangat dermawan kepada kami, kepada pelanggannya, dan kepada semua karyawannya. Semua orang di kota menyukai Koh Acong. Aku juga suka pada pria ramah yang baik hati tapi kadang galak ini.

“Umar!” panggil koh Acong padaku, dua puluh tahun silam ketika aku baru saja lulus SMP dan kebingungan apa harus melanjutkan sekolah atau bekerja saja. Aku adalah salah satu dari sekian banyak anak miskin penduduk Indonesia yang kebingungan apa harus tetap sekolah atau bekerja membantu keluarga. Apalagi saat itu seorang anak lulusan SMP sudah dianggap berpendidikan tinggi dan tidak perlu lagi sekolah sampai SMA yang letaknya di kota seberang.

Sesungguhnya ini adalah kisah tentang pria tua di dalam toko itu, bukan tentang aku.

“Umar, kesini kau!” teriak Koh Acong kepadaku yang sedang asyik berebutan kelereng dengan anak-anak lain.

“Iya koh?” tanyaku, sudah berdiri di hadapannya yang sedang berkacak pinggang di depan pintu masuk toko. Hari ini pelanggan sedang sepi dan yang Koh Acong lakukan hanyalah menonton kami bermain di depan tokonya.

“Koh dengar kamu sudah lulus SMP hah?” tanya Koh sambil mengipas-ngipasi wajahnya yang bulat. Cuaca hari ini sedang panas. Debu menguar dimana-mana.

“Iya koh, pekan lalu”

“Ckckckck” Koh Acong berdecak panjang “lalu kenapa kamu masih main di sini hah? Tidak siap-siap masuk SMA kau hah?” dua kali ‘hah’ dalam satu kalimat dari Koh Acong itu artinya dia sedang gusar. Lebih dari dua kali, dia marah besar. Kalau hanya sekali, itu memang sudah logatnya. Khas Koh Acong, begitu kata ibu.

“Saya…” aku menelan ludah, tidak tahu harus menjawab apa kepada Koh Acong. Takut salah jawab dan dia marah. Karena Koh Acong kalau lagi galak sama sekali tidak enak di dekati. Apalagi dengan cuaca panas seperti saat itu. “Saya…” aku masih gagap.

“Saya…saya apa, hah? Tidak mau sekolah lagi kau? Puas Cuma sampai SMP saja?”

Dengan berat hati aku mengangguk. Mungkin Koh Acong benar. Sampai saat ini aku belum memutuskan apa masuk SMA atau tidak lebih karena aku juga tidak menginginkannya. Meskipun Ibu bilang dia bersedia menyekolahkan aku di SMA seberang, tapi aku tahu dia mengatakannya dengan perasaan berat. Sekolah adalah barang mewah di rumah kami yang sempit itu.

“Apa kau tidak mau ke Prancis sana hah? Liat langsung menara Eiffel yang sering kau kagumi di kalender punya koh itu hah? Katanya mau ke China sana, mau lihat kampung halaman Koh hah? Sok-sok bilang mau ke Italia juga, nonton sepak bola. Hah???”

Lebih dari tiga kali ‘hah’. Berarti Koh Acong sedang marah besar. Aku langsung kabur dari hadapannya, berlari pulang. Tak peduli dengan teriakan memanggil-manggil dari Koh Acong. “Uummmmaaarr….haahhhh!!!”

***

“Sudah, pokoknya kau harus sekolah” seru Koh Acong di antara tumpukan karung beras yang mengelilinginya. Saat itu aku yang sedang mengangkut sebuah karung beras di punggungku, langsung jatuh terjerembab.

“Uang darimana koh?” aku balas berseru. Semalam aku sudah bicara dengan ibu. Tidak ada sekolah SMA. Tidak ada Eiffel, tidak ada kampung halaman Koh Acong, juga tidak ada sepak bola. Yang ada hanyalah tumpukan barang belanjaan yang harus aku angkut. Titik.

Koh Acong tidak menjawab. Aku nyengir. Koh pasti tidak bisa menjawab sumber masalahku yang satu itu.

Sore menjelang maghrib, aku pamit pulang pada Koh Acong. Wajah bulatnya tampak lelah, seharian mengurusi pelanggan yang tiba-tiba membanjiri tokonya. Dua orang karyawan yang membantu tidak juga cukup untuk melayani mereka semua sehingga Koh harus turun tangan.

“Saya pulang Koh…” kataku saat melewati depan meja kebesarannya. Di atas meja itu bertumpuk-tumpuk kertas bon, tagihan, pelunasan, tanda terima, segala macam brosur-brosur yang aku tidak mengerti apa maksudnya, sebuah kalkulator super besar yang sudah bulukan, juga sebuah buku tebal tempat Koh Acong mencatat segala akivitas tokonya. Istri Koh Acong yang sedang memijat-mijat bahu suaminya tersenyum mengangguk. “Saya pulang Cih…” pamitku pada wanita lembut itu.

“Umar, tunggu…” tahan Koh Acong “kau mau sekolah kan?”

Aku tidak langsung menjawab. Semangatku untuk sekolah telah terbang bersamaan dengan selesainya SMP-ku.

“Pendaftaran di SMA seberang masih seminggu lagi. Kalau kau mau Koh bisa kirim kau ke sana besok, mendaftar. Bagaimana?”

“Tapi Koh… saya kan tidak punya uang untuk sekolah. Sudahlah Koh, jangan membuat saya kecewa dengan keinginan-keinginan saya yang berlebihan itu” kataku tidak sopan. “Semalam saya sudah berpikir panjang, saya memang tidak pantas sekolah tinggi-tinggi koh. Tidak pantas.”

Tiba-tiba koh Acong menggebrak meja kebesarannya, membuat kertas-kertas berhamburan dan istrinya menjauh kaget.

“Siapa yang ajar kau bilang begitu, hah? Siapa bilang kau tidak pantas sekolah hah? Kuli mana yang bilang begitu sama kau? Orang lulusan SD mana yang larang kau sekolah, haahhh??” Koh Acong mengomel, ‘hah’-nya yang terakhir sedikit lebih panjang dari yang biasanya.

“Tidak ada koh…saya sendiri yang…”

“Hah!” potong Koh Acong “orang kecil memang selalu berpikiran kecil! Dangkal! Hah!”

“Tapi Koh…”

“Tidak ada tapi-tapi! Pokoknya besok kau harus ke SMA seberang. Mendaftar kau! Biar Koh yang tanggung semua biaya sekolahmu. Bilang sama ibumu malam ini. Bilang kau ingin jadi orang besar, yang punya cita-cita besar!”

Aku tak tahu harus bilang apa lagi. Hanya anggukan pasrah yang aku tunjukkan pada Koh Acong. Dia benar-benar sudah menjadi pemegang kekuasaan tertinggi di hidupku sejak Ibu menitipkan aku untuk menjadi kuli di tokonya. Ibu pasti tak bisa berkutik lagi kalau Koh Acong sudah bilang seperti itu kepadaku.

Sekolah.

Kata itu terus terngiang di kepalaku dalam perjalanan pulang. Yah, sekolah!

***

Koh Acong dan istrinya, juga ibu, mengantarkan aku ke pelabuhan keesokan harinya. Aku berpakaian amat rapi dan menyandang sebuah ransel jelek berisi beberapa potong pakaian. Tak lupa aku mengirimkan salam perpisahan untuk teman-temanku sesama kuli kepada Koh Acong.

“Hah! Mereka semua itu sudah koh tawari untuk sekolah tapi tidak ada yang mau, hah!” jawab Koh Acong saat aku bertanya kenapa Deni, Mius, Bandi dan Yono tidak ditawari juga untuk sekolah ke SMA seberang. “Sudah aku bujuk seminggu penuh, malas mengulang-ulangnya lagi, giliran kau yang koh tawari. Beruntung kau langsung mau. Coba kalau tidak, koh pecat kalian semua jadi kuli di depan toko Koh!”

Aku tertawa. Kepergianku bisa jadi penyelamat untuk teman-temanku yang lain. Aku tahu Koh tidak pernah tidak serius dengan kalimatnya. Koh adalah seseorang yang memegang teguh apa yang diucapkannya. Pantang baginya menjilat ludah sendiri. Tapi selalu ada dispensasi untuk sebuah kebaikan. Paling Koh hanya akan memecat kami selama dua hari, dan kemudian setelah dua hari dia akan menyuruh karyawannya untuk memanggil kami di rumah masing-masing agar kembali bekerja.

Aku memeluk Koh Acong dengan erat. Pria ini sungguh berhati emas, sama persis dengan istrinya. Meski tak dikarunai seorang anak pun, Koh dan istrinya tak pernah hilang syukur. Kami sudah dianggap anak-anaknya sendiri.

“Umar, dengarkan koh baik-baik. Jangan kembali sebelum kau menjadi orang sukses. Jangan temui Koh kalau kau belum liat Eiffel”

“Koh ada-ada saja. Mana mungkin…”

Pletakk… kepalaku dijitak Koh Acong.

“Koh sudah bilang, hah! Hanya orang kecil yang punya pikiran dangkal seperti kau ini. Pokoknya Koh tidak mau tahu! Kalau kau pulang liburan kesini, jangan pernah temui Koh…”

Sekali lagi aku memeluk erat pria berwajah bulat itu.

***

Aku menepati janjiku – janji untuk tidak menemui Koh setiap pulang liburan. Aku hanya mengirimkannya berbagai oleh-oleh dari seberang. Meski tidak pernah bertemu langsung dengannya, aku tahu Koh Acong senang dengan oleh-oleh yang aku berikan. Selain itu juga agar uang bulanan Koh Acong yang dikirimkan untukku tak berhenti. Hehe

Sampai kemudian tibalah masa-masa kelam itu. kota kecil kami mengalami kemajuan pesat. Pemimpin daerah kami yang saat berorasi sebelum pemilihan lalu berjanji akan memajukan kota kecil kami ini menepati janjinya – tumben. Maka diundanglah berbagai investor ke kota kami. Geliat penduduk kota kecilku semakin terasa dengan banyaknya pendatang yang membuka usaha di sini. Toko-toko baru bermunculan bak cendawan di musim penghujan paling basah. Toko Koh Acong yang dahulu hanya seorang diri kini diapit dengan berbagai macam toko yang entah kenapa seperti punya spesialisasi masing-masing. Tidak seperti Koh yang menjual berbagai macam barang kebutuhan, mereka menjual hanya satu jenis barang saja atau satu jenis keperluan saja. Misalnya hanya menjual keperluan dapur saja, keperluan tukang bangunan saja, atau keperluan sembako saja. Penduduk kini lebih suka datang ke toko mereka karena mereka tidak perlu lagi berdesak-desakan dengan para tukang bangunan, penjual bahan dapur eceran atau dengan tukang kayu yang rajin beli paku di toko Koh Acong.

Seketika penghasilan Koh Acong menurun, tapi belum bangkrut. Masih ada beberapa pelanggan setia yang tetap berbelanja di toko Matahari Terbit karena mereka terkesan dengan keramahan dan kebaikan hati pria itu.

Sebuah surat dari ibu yang menghentakku aku terima enam bulan sebelum aku lulus SMA.

Teruntuk ananda Umar,
Buah hati permata milik Ibu

Umar anakku, bukan maksud ibu hendak memberikan kabar buruk kepadamu nun di sana. Tapi ibu rasa tak baik jika kau tak segera mengetahuinya.
Seperti kabar yang kau dengar dari para perantau kota kita di tempatmu sekarang, mereka benar soal kemajuan kota kecil kita ini. Soal banyaknya pendatang yang membuka usaha di sini. Tidak buruk sebenarnya, karena lapangan kerja untuk penduduk semakin banyak. Hanya saja yang ibu sesalkan, kita menjadi pelayan di tanah sendiri sementara orang luar yang menjadi atasannya.

Ah, bukan itu yang ingin ibu sampaikan.

Toko Koh Acong seperti yang kau tahu sangat ketinggalan jaman. Tidak seperti toko-toko yang baru buka. Modernisasi. Begitu kata ibu-ibu istri pejabat yang kebetulan berbelanja dengan ibu di pasar. Tokonya kini sepi, hanya ada satu dua pelanggan yang datang setiap harinya. Koh Acong lebih banyak menghabiskan harinya di depan pintu toko menanti pelanggan. Teriakan ‘hah’ miliknya kini sudah jarang terdengar lagi karena dengan terpaksa dia harus memutus perjanjian kerja dengan Minah dan Badrun yang selama ini bekerja di tokonya. Kau tahu, bahkan Cih Lisa istrinya harus ikut bekerja jualan makanan sekarang.

Bukan maksud ibu ingin menambah bebanmu, nak. Tapi Kau bilang pada ibu kalau di seberang sana kau sudah punya pekerjaan sampingan. Tidak berpenghasilan besar tapi bisa memenuhi kebutuhanmu. Sekolahmu hanya tinggal beberapa bulan lagi. Ada baiknya kau menulis kepada Koh Acong agar dia tidak usah lagi mengirimimu uang setiap bulannya karena hanya akan menambah beban keluarga Koh Acong. Katakan pada Koh kalau dia tidak usah risau dengan dirimu. Ibu yakin kau pasti bisa jika kau mau berusaha sedikit lebih keras lagi. Enam bulan bukanlah waktu yang lama untukmu berjuang.

Sekiranya kau mau memenuhi permintaan ibu, setelah membaca surat ini, segeralah menulis untuk Koh Acong. Jangan lupa berterima kasih atas kebaikan hatinya kepadamu, Nak.

Dari ibumu tercinta,
Mira.

Kepalaku pening setelah membaca surat dari ibu. Aku memang telah mendengar kabar itu, soal toko Koh Acong yang kini sepi, dari seorang teman yang baru datang merantau. Tapi aku pikir semuanya baik-baik saja karena Koh Acong tidak pernah memotong uang bulanan kirimannya serupiah pun. Jumlahnya masih tetap sama seperti saat tokonya masih berjaya dahulu, bahkan kadang lebih kalau tokonya sedang untung. Tak terasa butiran hangat meleleh di pipiku. Tiba-tiba aku merindukan sosok Koh Acong, pria tionghoa berwajah bulat yang amat baik hati itu.

Untuk Ananda Umar,

Hah! Jangan kau risaukan soal diriku di sini. Aku masih tetap bisa makan sampai sekarang jadi tak akan aku hentikan uang bulananku buat kau. Bukankah aku sudah berjanji kepadamu untuk membiayaimu sampai selesai sekolah, hah! Pokoknya Koh tidak mau tahu! Tiap bulan Koh akan tetap mengirimimu uang. Titik! Hah!

Tiga kali ‘hah’ dalam surat dari Koh Acong sebagai balasan atas suratku yang meminta agar dia berhenti mengirimiku uang. Aku sudah menjelaskan panjang lebar soal pekerjaan sampinganku di sini, juga soal permintaan ibu. Tapi Koh Acong menolak dengan tegas, bahkan dengan tiga kali ‘hah’. Ternyata Koh Acong masih tetap seperti dulu. Seharian itu air mataku tak berhenti menetes. Aku berjanji dalam hati tak akan mengecewakannya, sedikit pun, setitik pun. Aku akan membawakan gambar asli menara Eiffel untuknya. Aku akan membawakan tanah dari kampung halamannya nun di China sana. Aku juga akan membawakan dia jersey Inter milan, klub sepak bola favorit kami berdua.

Aku rindu masa-masa ketika aku dan teman-temanku beramai-ramai menonton pertandingan sepak bola hingga larut di rumah Koh Acong. Aku rindu teriakan ‘hah’-nya setiap kali tim kesayangan kami kalah. Aku bahkan rindu aroma kopi dari teko aluminium yang selalu diminumnya setiap kali nonton bola.

***

Sudah dua puluh tahun aku tidak pernah melihat Koh Acong lagi. Hanya surat-surat dari ibu yang tak pernah berhenti mengalir memberitahukan kabar Koh Acong. Saat aku berkuliah, Koh berhenti mengirimiku surat karena matanya semakin rabun dan tangannya selalu kram jika menulis banyak. Sesuai janjinya dia membiayai sekolahku sampai lulus. Tapi aku sama sekali tidak mau menerima uangnya lagi sejak aku mulai kuliah di ibu kota negara. Aku dapat beasiswa penuh untuk kuliah dan sengaja tak aku beritahukan alamatku di ibu kota kepada Koh Acong agar dia tidak nekat lagi mengirim uang kepadaku. Hanya berlembar-lembar surat yang terus aku tuliskan untuknya setiap bulan, kadang dibalas oleh Cih Lisa istrinya, kadang tidak. Tapi aku tidak begitu peduli. Yang penting Koh Acong tahu kabarku baik-baik saja.

Aku mengusap air mata yang jatuh ke pipiku. Ya ampun, cengeng sekali aku ini. Aku masih berdiri di balik kaca toko yang kusam, sama sekali tak berani melangkah masuk. Ada terlalu banyak kesedihan di dalam sana. Kenangan masa kecilku, suara ‘hah’ Koh Acong, teriakan teman-temanku sesama kuli, sorak-sorak ketika nonton bola, sepertinya semua kenangan itu terperangkap di dalam toko Matahari Terbit. Aku seperti melihat diriku yang masih berumur belasan tahun, sedang mengangkut belanjaan pelanggan Koh Acong, berkeringat dan hitam, mengenakan baju ‘dinas’ku.

Seorang pelanggan yang masuk ke dalam toko Koh Acong mengagetkan aku. Dari luar aku bisa melihat wajah bulat Koh Acong, senyumnya yang masih tak berubah sama sekali ketika melayani pelanggannya, tapi giginya kini sudah ompong semua. Cih Lisa sudah meninggal lima tahun yang lalu dan Koh Acong hidup sendiri selama ini. Entah bagaimana dia bertahan melawan modernisasi di kota kecil kami. Dari seorang kaya raya, satu-satunya pemilik toko segala rupa ada kini menjadi pemilik sebuah toko kusam, sepi dan barang dagangannya semakin hari semakin sedikit saja. Tak ada lagi mainan anak-anak yang dijual Koh Acong. Anak-anak sekarang lebih suka main komputer, robot-robot mahal, persis anakku yang bungsu. Jaman telah berubah tapi Koh Acong tidak.

Aku tergugu. Dengan tergesa-gesa aku masuk ke dalam toko setelah pelanggan yang tadi masuk telah selesai berbelanja kemudian langsung memeluk tubuh bungkuk itu erat tanpa ba bi bu. Aku peluk lebih erat lagi dan menangis di bahunya.

“Saya Umar koh…” kataku terbata setelah tangisku mulai reda dan koh Acong mulai protes dipeluk terus. “Saya kesini mau menemui Koh, sesuai permintaan Koh yang tidak mau bertemu saya sebelum saya berhasil”.

Koh Acong menyipitkan matanya yang sudah sipit itu sehingga tampak hanya seperti garis datar saja. beberapa detik dia mengamati wajahku sebelum akhirnya dia tergelak. “Umar, hah?”

Aku mengangguk kencang, bahagia Koh Acong masih mengingatku.

“Hahaha…Umar. Sudah besar kau sekarang. Dengan siapa kau kesini? Bagaimana dengan sekolahmu?”

“Sudah selesai Koh, tapi saya ingin lanjut ambil doktor. Sekarang saya sudah kerja di kota propinsi.”

Koh Acong menepuk-nepuk bahuku. “Sudah hebat kau sekarang” Koh terkekeh. Gusinya yang kelabu terlihat di sela-sela tawanya.

“Ada yang mau aku berikan pada Koh” kataku buru-buru. Aku kemudian membuka tas yang aku bawa sejak tadi kemudian mengeluarkan sebuah jersey berwarna biru garis-garis hitam. “Ini seragam inter milan koh, saya beli langsung di Milan sana beberapa bulan yang lalu. Khusus buat Koh, ditanda tangani oleh Crespo Koh” aku mengangsurkan baju itu ke tangan Koh Acong yang langsung membelai-belai baju itu.

“Ini asli?” selidik Koh Acong. Aku mengangguk mantap.

“Juga foto menara Eiffel. Aku memotretnya buat Koh. Dan tanah dari kampung halaman koh di China” ku keluarkan dari tas selembar foto menara Eiffel yang besar juga sebuah botol kecil berisi tanah. Koh Acong menerima kedua benda itu.

“Kau benar-benar sudah pernah kesana Umar…?” Koh Acong bertanya gugup. Mungkin dia terlalu senang mendapat oleh-oleh istimewa dariku.

“Iya Koh, saya sengaja ke sana untuk Koh Acong. Saya sudah janji…”

Pletakk…

Koh Acong menjitakku, tapi kini tak sekeras saat dia menjitakku ketika terakhir kali bertemu.

“Janji-janji apa, hah? Tidak usah janji yang aneh-aneh. Koh Cuma mau kau sekolah, itu saja”.

Aku tersenyum. Sudah lama aku tidak mendengar omelan Koh Acong.

UPS SOHO
1.57 PM
Selasa panas

You Might Also Like

2 komentar

  1. sangat menyentuh eh,,bagi resep dong bisa menulis kyak gini... :D

    ReplyDelete
  2. Resepnya mudah, sekarung durian sudah cukup. Haha

    ReplyDelete