Hugo, A Beautifull Movie

"I'd imagine the whole world was one big machine.
Machines never come with any extra parts, you know.
They always come with the exact amount they need.
So I figured if the entire world was one big machine.
I couldn't be an extra part. I had to be here for some reason.
And that means you have to be here for some reason, too."

-Hugo Cabret-



Kalimat di atas diucapkan oleh Hugo, seorang bocah berusia sekitar 12 tahun kepada temannya, Isabelle ketika mereka berdua sedang berada di menara jam dan memandangi menara Eiffel. "Aku membayangkan kalau seluruh dunia ini adalah sebuah mesin yang besar. Mesin tidak pernah menggunakan bagian-bagian yang tidak perlu. Dia selalu hanya menggunakan bagian yang yang dibutuhkan dengan jumlah yang tepat. Jadi jika dunia adalah sebuah mesin yang besar, aku tidak mungkin menjadi bagian yang tidak dibutuhkan itu. Aku ada di sini karena sebuah alasan. Begitu juga kau"
Pertama melihat poster film Hugo, saya berasumsi kalau film ini hanyalah kisah fiksi-fantasi biasa, seperti Narnia atau Harry Potter. Saya pikir saya akan menyaksikan sebuah petualangan seru dengan visual efek terbaik, hewan-hewan fantasi, setting di sebuah negeri antah berantah dan ternyata... semua itu tidak ada. Kita 'hanya' akan disuguhkan kisah petualangan versi Hugo (which is...benar-benar kisah petualangan anak-anak semacam nonton di bioskop diam-diam dan mengelabui petugas keamanan stasiun) dengan sentuhan 'rasa kemanusiaan' dari Martin Scorsese.  Ahya, Johny Depp duduk sebagai produser di film ini.

Mengambil setting di Paris tahun 1930-an, di sebuah stasiun kereta api, kisah Hugo dimulai. Hugo (Asa butterfield) adalah seorang anak yatim piatu yang bekerja memperbaiki jam besar yang ada di stasiun, menggantikan tugas pamannya yang sudah tidak diketahui keberadaannya. Dia tinggal di relung bangunan stasiun dan berusaha hidup dari mencuri makanan setiap harinya. Sehingga Hugo harus selalu menghindari Gustave, si petugas keamanan stasiun yang terluka karena perang bersama seekor anjingnya.

Hugo dan ayahnya hendak memperbaiki sebuah robot yang ditemukan ayahnya di museum. Sayangnya ayahnya meninggal sebelum robot itu selesai dan Hugo harus memperbaiki robot itu sendiri. Dengan bantuan Isabelle temannya, Hugo berhasil memperbaiki robot itu sehingga dapat memecahkan pesan yang ditinggalkan ayahnya. Sebuah gambar yang membawanya menemui seorang mantan sineas terkenal di akhir abad 19, Georges Melies.

Di awal film, saya mengira beberapa tokoh yang ditampilkan seperti seorang gadis penjual bunga, seorang ibu pemilik kedai dan seorang pria gendut yang 'pedekate' pada ibu pemilik kedai itu hanyalah tokoh-tokoh tempelan yang tidak penting, sama sekali tidak ada hubungannya dengan petualangan Hugo. Dan benar saja, mereka sebetulnya tokoh-tokoh yang tidak akan mempengaruhi alur cerita jika tidak ditampilkan tapi membuat film ini sempurna. Saya tidak akan se-terkesan ini pada film Hugo jika tidak ada mereka di dalamnya. Entah mengapa mereka menjadi 'nyawa' dalam film meski tidak mendapat porsi tampil yang lama.

Maka gabungan dari alur cerita yang 'manusiawi', tokoh-tokoh pelengkap, dan keindahan visual film ini membuat saya memasukkannya ke dalam daftar film favorit saya, setingkat lebih baik dari film favorit saya yang lain, Son of Rambow. Sayang film ini tidak berhasil memenangkan Oscar kategori Best picture, kalah bersaing dari The Artist, film bisu yang mengambil setting 1920-an. Uniknya, dua film ini memiliki tema yang hampir sama. Tentang sejarah perfilman dunia sejak ditemukannya kamera oleh Lumiere bersaudara. Sebuah kisah klasik yang menyentuh ketika film bisu mulai tak laku lagi dan orang-orang mulai paham bahwa akhir yang bahagia hanya ada di dalam film.

Ada adegan lucu ketika orang-orang menonton film pertama dari Lumiere bersaudara, Arrival of A Train. Mereka menjerit ketakutan melihat adegan kereta yang sedang berjalan di layar, menyangka kereta itu akan menabrak mereka. Saya memahami adegan ini sebagai 'keajaiban yang datang tanpa proses bisa jadi menakutkan' (sok bijak).

Rumah,
7.54 PM
Masih terkesan dengan film ini

Comments

Popular posts from this blog

Saya dan Tahun 60-an

I (Don't) Love My Boss (Part I)

Pierre Tendean (Lagi-lagi)